Kisah Menarik dari Rakernas Apkasi dan Kunjungan Presiden SBY

20 01 2010

SBY Minta Duduk di Dingklik, Minumnya Es Jeruk

Rakernas Apkasi di Pendapa Muda Graha Kabupaten Madiun membawa berkah bagi pemilik depot nasi pecel 99, di Jalan Cokroaminoto, kota. Presiden SBY dan bersama rombongan menikmati makan malam di depot milik pasangan Karyono dan Heri Murti itu.

DWI NR DILIANA, Madiun.

Depot 99 di Jalan Cokroaminoto, Kota Madiun terlihat sepi. Pintu depot hanya dibuka separo. Tidak ada aktivitas orang menikmati hidangan, di ruangan itu. Bahkan kursi masih diletakkan di atas meja.

Suasana itu, kontras dibandingkan pada Senin (18/1) malam lalu. Puluhan orang terlihat hilir mudik di dalam depot yang juga rumah sang pemilik. Depot yang dirintis sejak 1962 itu, kedatangan tamu istimewa. Yakni, presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istri, serta rombongan menteri dan anggota DPR RI Edy Baskoro Yudhoyono. Selain itu juga tampak wali kota Bambang Irianto dan istrinya. ”Kira-kira tadi malam (Senin malam, Red) kami melayani 200 tamu. Tapi yang paling membanggakan, dikunjungi presiden,” tutur Heri Murti, pemilik Depot 99, kemarin (19/1).

Heri mengaku tidak pernah berfikir akan dikunjungi orang nomor satu di negeri ini. Sebab tidak ada firasat apapun, bakal kedatangan tamu istimewa. Hanya saja, sang suami, Karyono, lima hari sebelumnya sempat mimpi bertemu Gus Dur, mantan presiden RI. ”Ee…. nggak tahunya yang datang pak presiden sama istri dan anaknya,” terangnya.

Senin pagi, Depot 99 masih buka seperti biasa. Tidak ada pemberitahuan jika presiden akan datang. Siang hari, sekitar pukul 14.00 WIB, protokoler istana dan Paspampres mengabarkan SBY akan makan malam di depotnya. Heri seakan tak percaya. Dia bahagia sampai lututnya lemas. Tidak hanya itu, dia juga memanggil anak semata wayangnya yang tinggal di Malang untuk membantu. ”Waktunya benar-benar mepet, apalagi sekarang tidak musim bunga turi kesukaan Pak Djoko Suyanto, Menkopolhukam. Soalnya beliau sudah jadi langganan kami sejak masih Komandan Lanud Iswajudi,” papar Heri.

Suamianya juga harus menghubungi keluarga di Madigondo, Magetan untuk mendapatkan bunga turi. Sayang, hasilnya kurang maksimal, karena hanya dapat sak cowok. Rasa deg-gegan Heri dan suami kian bertambah jam menunjukkan pukul 18.30 WIB. Tim dokter kepresidenan datang memeriksa masakannya. ”Waktu itu rasanya bingung campur deg-degan. Ada empat dokter yang datang ke depot saya. Semua masakan diperiksa, menunggunakan empat cawan dan campuran kimia. Minuman seperti teh dan air putih juga diperiksa. Begitupula buah semangka yang akan kami hidangkan,” tuturnya.

Ada peristiwa menarik, saat presiden makam malam pukul 20.00 – 21.30 WIB. Presiden SBY tidak menyentuh es teh dan air putih yang telah sudah diperiksa tim dokter dan disuguhkan. Karena, SBY memilih minum es jeruk hingga tiga gelas. ”Sangat menyenangkan kedatangan Pak Presiden. Di dalam depot, saya itu kayak keluarga. Pak Presiden, Bu Ani, Mas Ibas dan Pak Andi Mallarangeng malah tanduk (nambah, Red) dua kali,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Karyono juga sempat dibuat pusing menyiapkan lokasi. Sebab depotnya sempat diubah menjadi restoran mewah dengan meja kursi untuk menjamu pejabat. Semua barang itu didatangkan langsung dari Korem. Namun pukul 18.00 WIB, instruksi berubah. Sebab presiden menghendaki duduk di dingklik sambil mengenang masa lalu. ”Kasihan petugasnya harus bolak-balik mengembalikan meja kursinya,” terangnya.

Dari kunjungan tersebut, Karyono jadi tahu jika presiden SBY senang kulup krai dan sambel. Tidak hanya itu, presiden juga suka bergedel, sundukan ayam dan paru. ”Kedatangan pak presiden tidak ternilai harganya dibandingkan nemu emas. Ini tidak akan terjadi tanpa referensi Pak Djoko Suyanto dan Pak Wali, langganan setia saya,” paparnya.****(irw)

Iklan




Sebuah renungan untuk kita;Compang camping Kota Jakarta

24 03 2009

Jujur saya kadang merasa minder melihat ibukota tercinta kita Jakarta dibandingkan dengan Ibukota negara negara lain di ASEAN misalnya, sangat jauh sekali. Jakarta yang kumuh,panas,polusi, dan sangat compang camping tata kotanya. Sangat tidak layak disebut sebagai ibukota sebuah negara. berikut ini saya muat catatan dari seorang asing yang mengkritik habis-habisan Ja. Beliau menulis dengan kritis dan apa adanya, berikut ini tulisan beliau :

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta , the fourth largest city in the world. In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.
Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta, yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately ‘pro-market’ profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.
Di saat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.

Most Jakartans have never left Indonesia, so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore; with Hanoi or Bangkok. Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a ‘hell on earth,’ the local media describes Jakarta as “modern,” “cosmopolitan,” and “a sprawling metropolis.”
Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok. Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis”.

Newcomers are often puzzled by Jakarta ‘s lack of public amenities. Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila, another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at In tramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.
Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

But in Jakarta , there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.
Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.
Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word “sidewalk.” Almost anywhere in the world (with the striking exception of some cities in the United State , like Houston and Los Angeles ) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public transportation in areas with high concentrations of people.
Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional”). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota. Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

In Jakarta , there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, ‘details’ that are symbols of urban life anywhere else in the world.
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.

Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its ‘shop-till-you- drop’ image to that of the centre of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah ci tr a kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Thea tr e yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.

Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Petronas Towers , among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orches tr a companies as well top international performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery .
Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun Balai Konser Philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major at tr action millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia . Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Bangkok’s colossal temples and palaces coexist with ex tr emely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila .
Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.

Now back to Jakarta . Those who have ever visited the city’s ‘public libraries’ or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be ‘profitable’ (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang pernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – Masya Allah! (pent.) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).

Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now controls almost everything, from residential housing to what were once public areas.
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.

While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage system, wastewater tr eatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kuala Lumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis tr ik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.

Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Putrajaya. The “Rapid” system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on “Rapid” costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.
Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Me tr o (Pu tr a Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr ajaya. Sistem “RApid” memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok contracted German firm Siemens to build two long “Sky Train” lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi , Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok . Jakarta , thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.
Bangkok menunjuk kon tr aktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang “Sky Train” dan satu jalur me tr o. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok . Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin .
Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin

Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?
Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah. Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??

Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur , Singapore , Brisbane and even in some instances from its poorer neighbours like Port Moresby , Manila and Hanoi .
Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kuala Lumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Comparative statistics have to be transparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. “We have to watch out,” said a concerned Malaysian filmmaker during New Year’s Eve celebrations in Kuala Lumpur . ” Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta !”
Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. “Kita harus berhati-hati” kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kuala Lumpur. ” Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kuala Lumpur akan bernasib sama seperti Jakarta!”

Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur ? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?
Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.
Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya





ST12:Jangan Pernah Berubah

4 03 2009

biarkan waktu teruslah berputar
ku cintai kamu penuh rasa sabar
meski sakit hati ini kau tinggalkan
ku ikhlas tuk bertahan

cintaku padamu begitu besar
namun kau tak pernah bisa merasakan
malah kini kau ucapkan selamat tinggal
membuat keresahan

* meninggalkanku tanpa perasaan
hingga ku jatuhkan air mata
kekecewaanku sungguh tak berarah
biarkan ku harus bertahan

reff:
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah

repeat *
repeat reff

jangan pernah kau coba untuk berubah
ku relakan yang indah dalam hatinya





Malaysia: Yoga Haram Bagi Muslim!

24 11 2008

Kuala Lumpur – Badan tertinggi Islam di Malaysia melarang umat muslim melakukan yoga. Alasannya, latihan fisik asal India itu mengandung elemen-elemen Hindu yang bisa merusak muslim.

Fatwa haram itu dikeluarkan Dewan Fatwa Nasional, yang punya otoritas untuk mengatur bagaimana muslim di negeri jiran itu mempraktekkan keimanan mereka.

Menurut fatwa yang dikeluarkan lembaga itu, yoga bukan cuma melibatkan latihan fisik namun juga elemen-elemen spiritual, pujian dan pemujaan Hindu. Demikian seperti dilansir USA Today, Sabtu (22/11/2008).

Menurut Ketua Dewan Fatwa Nasional, Abdul Shukor Husin, banyak muslim yang mempraktekkan yoga yang populer di dunia itu, tidak mengetahui kalau tujuan akhirnya adalah menyatu dengan Tuhan dari agama lain.

“Kami memandang bahwa yoga, yang berasal dari Hindu, menggabungkan latihan fisik, elemen agama, pujian dan pemujian untuk tujuan mencapai perdamaian dalam diri dan pada akhirnya menyatu dengan Tuhan,” kata Husin pada wartawan di Kuala Lumpur.

“Itu tidak sepantasnya. Itu bisa merusak iman seorang muslim,” imbuhnya. Dikatakannya, para ulama di Mesir juga telah mengeluarkan fatwa serupa pada tahun 2004 dan menyebut yoga sebagai “penyimpangan.”

Belum lama ini dewan tersebut juga mengeluarkan fatwa yang melarang perilaku tomboy. Ditegaskan bahwa anak perempuan yang bertingkah dan bergaya seperti anak laki-laki berarti melanggar ajaran Islam.(ita/ita)





Kontroversi Adam Malik Agen CIA : Tim Weiner Telah 20 Tahun Menulis Tentang CIA

24 11 2008

Washington – Buku “Legacy Of Ashes The History Of CIA” merupakan buku ketiga yang ditulis seorang wartawan The New York Times, Tim Weiner. Dalam buku tersebut, Adam Malik disebut-sebut merupakan agen CIA, badan intelijen AS.

Terlepas dari benar tidaknya hal itu, penulis buku tersebut, Tim Weiner bukanlah penulis kacangan.

Pria berusia 52 tahun itu pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize. Bahkan karena bukunya “Legacy Of Ashes The History Of CIA” laris manis, Weiner telah mendapatkan kontrak baru untuk menulis dua buku lagi bertema keamanan nasional. Satu buku mengenai sejarah FBI dan buku lainnya mengenai sejarah militer AS sejak Perang Dunia II.

Menurut Weiner seperti dilansir Observer.com, kemungkinan dirinya bakal butuh waktu 5-6 tahun untuk mengerjakan kedua buku tersebut.

Weiner telah menulis tentang CIA, badan intelijen Amerika itu selama 20 tahun terakhir. Dia telah bepergian ke Afghanistan dan negara-negara lain untuk menyelidiki operasi tersembunyi CIA.

Selain itu Weiner juga telah pergi dan melaporkan dari 18 negara, termasuk Pakistan, Sudan, Liberia, Kuba, Haiti dan Filipina untuk meliput perang, kudeta dan kebijakan luar negeri AS.

Weiner bergabung dengan koran ternama AS, The New York Times pada tahun 1993. Dia pernah menjadi koresponden keamanan nasional di Washington dan koresponden asing di Meksiko.

Weiner meraih Pulitzer Prize pada tahun 1988. Penghargaan itu diraihnya sewaktu menjadi reporter investigasi di media Philadelphia Inquirer. Weiner meraih Pulitzer tersebut untuk tulisannya soal laporan nasional AS mengenai pembelanjaan Pentagon dan CIA.

Tulisannya itu kemudian dituangkan dalam bentuk buku. Pada tahun 1990, Weiner pun meluncurkan buku pertamanya, yang berjudul “Blank Check: The Pentagon’s Black Budget”.

Mulai tahun 1993 hingga 1999, Weiner menjadi reporter biro Washington yang meliput CIA untuk The New York Times.

Weiner pun meluncurkan buku ketiganya berjudul “Legacy of Ashes: The History of the CIA” yang menjadi pemenang non-fiksi penghargaan National Book Award 2007 dan merupakan salah satu buku terlaris di AS dan Inggris.





Kontroversi Adam Malik Agen CIA JK Minta Tim Weiner Tanggung Jawab

24 11 2008

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tidak mempercayai Adam Malik seorang agen CIA. Pria berkumis tipis itu pun meminta, Tim Weiner, si penulis buku ‘Legacy of Ashes The History of CIA’ bertanggung jawab.

“Kita harus pelajari dan minta pertanggungjawaban yang menulis buku itu,” tandas JK usai bertemu dengan Pangeran Philippe dari Belgia di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (24/11/2008).

JK pun setuju jika pemerintah Indonesia membantah penulisan Adam Malik agen CIA di dalam buku yang telah diterjemahkan dalam judul ‘Membongkar Kegagalan CIA’ itu. “Yang lebih menarik itu kita harus bantah,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar itu.

Sebagai diplomat, Adam Malik pasti memiliki relasi yang luas. Namun hal itu bukan berarti bisa disangkutpautkan bahwa Adam Malik seorang agen CIA.

“Ia bukan seperti itu. Dia memang punya banyak kawan. Bahwa beliau berteman dengan seorang diplomat itu bisa saja. Tapi bukan berarti beliau terlibat sebagai agen,” tandasnya.(ken/iy)





MY HEART WILL GO ON

2 08 2008

Every night in my dreams I see you, I feel you
That is how I know you go on.
Far across the distance and spaces between us
You have come to show you go on.
Near, far, wherever you are,
I believe that the heart does go on.
Once more you open the door
And you’re here in my heart,
And my heart will go on and on.

Love can touch us one time and last for a lifetime,
And never let go till we’re gone.
Love was when I loved you, one true time I hold to
In my life we’ll always go on.
Near, far, wherever you are,
I believe that the heart does go on.
Once more you open the door
And you’re here in my heart,
And my heart will go on and on.

You’re here, there’s nothing I fear
And I know that my heart will go on.
We’ll stay forever this way,
You are safe in my heart,
And my heart will go on and on.