Hermawan Kertajaya : Leadership SBY dan Marketing

29 06 2008

SEORANG spokesperson memang harus tetap jadi juru bicara bagi bosnya. Karena itu, sesudah Andi Mallarangeng menerbitkan buku, Jumat (27/6) malam, Dino Patti Djalal me-launch buku Harus Bisa, Seni Memimpin Presiden SBY.

Karena buku tentang presiden, ruangan depan Museum Gajah yang dipakai sebagai tempat peluncuran penuh sesak. Yang datang mulai menteri, pejabat eselon tingkat satu dan dua, anggota DPR, sampai para duta besar. Maklum, Dino adalah orang Deplu yang dikaryakan ke SBY. Jadi, banyak rekannya dari kantor yang juga datang.

Bukunya enak dibaca dan punya bobot. Dino bisa mencampur penglihatannya pada yang terjadi sehari-hari bersama SBY dengan konsep-konsep dan filosofi yang dikuasainya.

Dino berkenalan secara intensif dengan SBY ketika dirinya menjadi direktur Amerika di Deplu. SBY ketika itu adalah Menko Polkam. Dari persahabatan itulah, timbul kesepakatan untuk memperjuangkan SBY jadi presiden. Pada saat SBY jadi presiden, Dino langsung diangkat jadi spokesperson, khususnya bidang luar negeri. Itu pas dengan pengetahuan dan pengalamannya.

Karena itulah, Dino punya banyak background personal ketika keputusan-keputusan sulit harus diambil. Saya sendiri diminta untuk memberikan komentar yang pertama pada acara Jumat malam tersebut. Saya langsung mengatakan bahwa positioning buku itu adalah “jawaban” kepada sebagian masyarakat Indonesia yang sering menanyakan gaya kepemimpinan SBY.

Ada yang bilang kenapa mesti ragu-ragu, padahal SBY kan the first directly elected president. Toh, mandatnya begitu besar ketika menang di babak kedua.

Ada tiga hal yang saya katakan malam itu. Satu, landscape antara SBY dan Soeharto beda total. Technologically, politically, economically, socially, totally different.

Zaman Soeharto dulu, TV pegang peran. Itu pun harus TVRI dan TV-TV swasta yang dipunyai teman dan anak-anaknya. Sekarang? Setiap orang bahkan bisa jadi publisher dan punya media. Bisa ngeblog, bisa punya website. Dengan demikian, orang bisa ngomong apa saja tanpa filter, tanpa screening. Mulai yang suka sampai yang gak suka, bisa bicara dengan anonim atau bahkan bisa pakai nama apa saja. Yang laki bisa ngaku perempuan, yang banci bisa ngaku straight, dan sebagainya. Seru ya?

Politik? Wah, yang ini tambah seru. Liat aja yang terjadi dengan hak angket BBM sekarang. Itu buktinya. Di zaman Pak Harto, mana ada partai non-Golkar memprotes kebijakannya. Saat ini? Walaupun sudah tahu bahwa itu adalah fenomena global, toh musuh-musuh politik SBY mempermainkannya.

Ekonomi? Siapa yang bisa kontrol harga komoditas dan minyak saat ini? Para spekulan bisa lebih powerful daripada menteri keuangan dan menteri perdagangan negara mana pun.

Socially? Wah, lebih kacau lagi. Dengan adanya teknologi Web 2.0 yang memungkinkan orang melakukan komunikasi global tanpa mengenal identitas, grass root leader sering lebih kuat daripada formal leader.

Kesimpulannya?

Landscape sudah berubah dari vertikal di zaman Soeharto jadi horizontal di zaman SBY. Jadi, agak tidak fair membandingkan kepemimpinan vertikal Soeharto dan kepemimpinan horizontal SBY.

Pada buku Harus Bisa itu, saya melihat banyak sekali pertimbangan yang harus dilakukan SBY dalam mengambil keputusan. Sekali salah, wah bisa repot. Di zaman Soeharto, tidak ada yang berani mengganggu gugat.

Hal kedua yang saya katakan malam itu bahwa yang penting buku tersebut harus menganut prinsip PDB yang solid. Artinya? Buku itu berusaha memosisikan horizontal leadership-nya SBY. Yang lebih penting lagi, positioning tersebut harus didukung oleh diferensiasi yang solid.

Dengan demikian, barulah image yang benar akan tercapai. Sebab, image memang tidak bisa dibuat. Image itu cuma akibat ketika orang melihat secara konsisten paralelnya positioning dan diferensiasi.

Dino, dengan bobot intelektualnya, pasti punya tanggung jawab moral untuk mempertanggungjawabkan yang ditulis. Di panggung juga ditulis besar-besar pesan SBY kepada Dino: ”Din, kalau kamu mau nulis buku saya, tulis yang objektif. What you see and what I have done. Itu akan abadi,” begitu kira-kira bunyinya.

Ketiga, sebagai orang marketing, saya tertarik pada kata “Bisa” yang di-owned oleh SBY. Waktu kampanye dulu, Bersama Kita Bisa. Waktu Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Nasional, tema besarnya Indonesia Bisa, Sekarang Kita Harus Bisa.

Smart kan?

Kata “Bisa” itulah yang dulu juga dipakai Mahathir untuk membangkitkan semangat orang Malaysia dengan semboyannya, Malaysia Boleh!

Pelajarannya?

Strategi marketing kayak leadership juga karena sama-sama gak bisa mendikte customer. Ketika landscape berubah, so you need new wave marketing seperti yang sudah beberapa kali saya tulis.

Intinya? Ya horizontal marketing. Taruhlah customer Anda sejajar dengan Anda. Jangan di bawah, tapi juga ndak perlu terlalu atas.

Itu semua sudah basi.

Itu semua akan dibahas di The MarkPlus Festival, 10 Juli, karena saya tidak mau arek-arek Suroboyo ketinggalan meng-update ide dan konsep marketing­-nya.

Bagaimana pendapat Anda? (www.hermawankartajaya.com)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: