Professor Perkapalan Dari ITS : Ikap yang Suka Belajar Sendiri

22 06 2008

HIDUP saya memang penuh kebetulan.” Kalimat bersahaja tersebut diungkapkan Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD CEng FRINA.

Nama dan gelar itu terasa begitu panjang. Tapi, lantaran orangnya sangat sederhana, dia merasa cukup dipanggil Ikap. Itu singkatan dari namanya, I Ketut Aria Pria Utama.

Ada banyak hal yang membuat Ikap merasa beruntung. Yang pertama, dia menjadi profesor saat umurnya baru 40 tahun. SK pengangkatan Ikap sebagai profesor desain kapal dan hidrodinamika keluar pada 1 Desember 2007. Ketika itu dosen di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tersebut baru berumur 40 tahun 6 bulan. Setelah SK keluar, Ikap dikukuhkan sebagai profesor pada 4 Juni 2008.

Namun, gelar tertinggi dalam dunia akademis tersebut bukan satu-satunya yang dianggap sebagai kebetulan alias keberuntungan. Ikap adalah guru besar ke-67 di ITS. Dia lahir pada 1967. Otak-atik gatuk itulah yang dianggapnya kebetulan yang lucu.

Tentang gelar guru besar yang disandangnya dalam usia muda, Ikap tak mau congkak. ”Di dunia ini banyak orang pintar. Tapi, mereka tidak beruntung. Jadi, mereka tidak berhasil,” katanya merendah.

Ikap memang pandai dan rendah hati sejak kecil. Kepintaran itu tak didapatnya dari mengikuti bimbingan belajar. Pria kelahiran Denpasar, 6 April 1967 tersebut lebih suka belajar sendiri. ”Lebih enak mempelajari semuanya sendiri,” ujar ayah tiga anak itu.

Salah satu hal yang paling membantunya untuk sukses adalah kebiasaannya membaca. Itu dibiasakan Drs Ketut Wentra, ayahnya. Ayah Ikap punya peta dunia yang lengkap. Dari peta itulah, Ikap kecil belajar mengenal dunia. Pelajaran yang paling disukainya adalah geografi. Dia baru tertarik dengan sains saat SMA.

Meski belajar otodidak, Ikap selalu juara kelas. Sejak SD sampai SMA, dia tak pernah tergeser dari peringkat satu atau dua. Bahkan, saat SMA, gurunya pernah minta Ikap ikut bimbingan belajar. Itu bukan lantaran nilai Ikap anjlok. Tapi, sang guru ingin Ikap bisa menularkan ilmunya kepada teman yang ikut bimbingan belajar. ”Kata guru, saya bisa ikut gratis,” ujarnya.

Sejatinya, Ikap tak pernah ingin jadi ahli bidang perkapalan. Cita-cita aslinya adalah dokter. ”Tapi, saya takut lihat darah. Rasanya berdesir gimana gitu,” ujarnya. Karena itu, dia memutuskan masuk teknik elektro di ITB setelah lulus SMA. Tapi, ibunya melarang. ITB terlalu jauh. Ikap pun ”berlabuh” di ITS.

Di kampus tersebut, Ikap memilih teknik perkapalan. ”Dulu, kalau denger ITS, yang terbayang teknik perkapalannya,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa, Ikap tak ngoyo. Dia menempuh kuliah S-1 lima tahun, 1986-1991. Setelah lulus, dia mengajar di jurusannya selama tiga tahun. ”Saya ingin merasakan kehidupan sebenarnya di dunia kerja, bukan cuma kuliah saja. Maka, saya tidak ingin langsung melanjutkan kuliah S-2,” jelas putra pasangan Ketut Wentra dan I Gusti Made Anom tersebut.

Sejatinya, Ikap pernah ditawari ayahnya untuk ikut seleksi beasiswa ke luar negeri setelah SMA. Tapi, Ikap tak mau pergi. Asal-asalan, dia menjawab, ”Nanti ke luar negeri kalau S-2.” Ternyata, omongannya terwujud.

Pada 1993, Ikap lolos seleksi beasiswa S-2 dari British Council. Pada 1994, dia berangkat ke Universitas Southampton, Inggris. Ikap mengambil jurusan maritime engineering science. Setahun kemudian, dia lulus dan mendapat gelar master of science (MSc).

Pada 1996, Ikap kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan S-3. Beasiswa itu hanya diperuntukkan staf perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berdasar rekomendasi dari pembimbing S-2-nya, Prof Anthony F. Molland, Ikap akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut. Universitas Southampton kembali menjadi pilihannya. S-3-nya itu selesai pada 1999.

Kisah sedih mewarnai perjalanan pendidikannya. Seminggu sebelum ujian semester satu S-2, ayah Ikap meninggal. Itu adalah pukulan berat untuknya. Sebab, ayahnya adalah motivatornya. Ikap pun terpaksa pulang. ”Saya beruntung bisa mendapatkan tiket langsung, padahal biasanya harus inden seminggu,” jelasnya. Bagi dia, itu adalah keberuntungan tersendiri karena dia bisa menghadiri upacara ngaben ayahnya. Karena duka tersebut, Ikap down. Dia mengajukan ujian susulan dan lulus dengan nilai cukupan.

Saat meraih gelar S-3, Ikap sudah berkeinginan menjadi profesor. Dia terinspirasi kakak ibunya yang juga profesor.

Ikap mulai rajin menulis dan mengikuti seminar serta penelitian. Menurut dia, untuk mendapatkan poin menjadi profesor, seorang dosen harus melakukan tridarma. Yaitu, pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pengangkatan Ikap menjadi profesor memang tidak mengherankan. Dia mengerjakan 47 jurnal ilmiah dan makalah seminar nasional. Selain itu, Ikap menggarap 17 jurnal ilmiah dan makalah seminar internasional. ”Itu hanya yang saya ingat,” jelasnya.

Dari buah menjalani tridarma tersebut, Ikap mengumpulkan 956 poin. Untuk menjadi seorang guru besar atau profesor, dosen membutuhkan poin minimal 850. Karena punya cukup poin, Ikap mengajukan diri. Tapi, dari keseluruhan poin yang dia ajukan, yang disetujui ”hanya” 898. Itu sudah cukup untuk mendapat gelar profesor.

Profesor bukan satu-satunya penghargaan yang diraih Ikap di bidang akademik. Dia adalah peneliti produktif terbaik ITS pada 2006. Pada tahun yang sama, dia menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 tahun. Pada 2007, Ikap dinobatkan sebagai dosen berprestasi ITS. Pada tahun itu juga, dia menjadi finalis dosen berprestasi tingkat nasional.

Salah satu penghargaan yang paling membuatnya bangga adalah terpilih sebagai international council member Royal Institution of Naval Architects (RINA). Ikap adalah satu-satunya dosen Indonesia yang menerima penghargaan tersebut. Sebab, dia dinilai berhasil mengembangkan perkapalan di Indonesia dan Asia Pasifik.

Saat ini dia mengembangkan kapal hemat BBM. ”Pada saat BBM sedang langka seperti ini, saya harap penelitian saya berhasil agar berguna bagi orang lain,” kata Ikap. (sha/dos)


Aksi

Information

3 responses

26 08 2008
danang P47

ini adalah salah satu kebanggaan bagi bpk IKAP, sukses selalu….

2 09 2008
wahyu P38

Sangat membanggakan mempunyai dosen yang berprestasi, dan berharap bisa menjadi motivator bagi yang lain

25 09 2008
heinz369 "der reicht"

the master of hidrodinamics…congratulation, Mr.IKP!
vivat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: