Dosen Termuda ITS

22 06 2008
Minggu, 22 Juni 2008

<!–

–>

[ Minggu, 22 Juni 2008 ]
Profesor Berkepala Tiga

Kata profesor biasanya langsung dikaitkan dengan senioritas, bahkan usia lanjut. Tapi, di metropolis, ada beberapa orang yang berhasil meraih gelar tersebut dalam usia muda, bahkan pada umur berkepala tiga dan empat.
———-
I Nyoman Pujawan tak punya sosok khas stereotipe seorang profesor dalam buku-buku atau film-film komedi. Dia tak tampak sepuh, berkacamata tebal, atau bahkan pikun.

Nyoman masih terlihat begitu muda. Banyak yang menyangka dia adalah mahasiswa S-2 di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). ”Ndak tahu, dari mana menilainya. Mungkin karena saya kerempeng,” katanya.

Nyoman lahir pada 7 Januari 1969. Sampai hari ini, dia masih berumur 39 tahun 6 bulan 15 hari. Pada 1 Desember 2007, saat berumur 38, dia mendapat SK pengangkatan sebagai profesor bidang supply chain management. Pengukuhannya baru berlangsung 25 Juni.

Berarti, saat dikukuhkan pun, Nyoman masih belum genap berumur 40 tahun. Masih sangat muda untuk menyandang gelar profesor.

***

Memang, tak banyak profesor yang berumur 40-an tahun -atau di bawahnya- di Surabaya. Bagian kepegawaian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebut Prof Dr Kisyani sebagai yang termuda di kampus tersebut. Berdasar catatan, Kisyani lahir pada 25 Oktober 1962. Profesor Fakultas Bahasa dan Seni yang belum dikukuhkan tersebut sudah berumur 46 tahun.

Di Universitas Airlangga, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Mangestuti menyebut nama Fendy Suharyadi. Dia termuda di kampus yang berstatus badan hukum milik negara tersebut. Fendy, guru besar psikologi itu, berumur 43 tahun. Dia menerima SK guru besar pada April 2007. Empat bulan kemudian, dia dinobatkan sebagai profesor.

Sampai sekarang, Fendy juga masih yang termuda di Unair, di antara 350 profesor yang dimiliki kampus tersebut. ”Ada beberapa guru besar lagi yang bakal dikukuhkan. Tapi, mereka semua di atas 45 tahun,” kata Mangestuti.

”Perburuan” ke Universitas Surabaya (Ubaya) menghasilkan nama Prof Dr Yusti Probowati Rahayu. Ibu dua anak tersebut sekarang berumur 44 tahun.

Universitas Kristen Petra mencatat nama Prof Dr Hatane Semuel. Tapi, Hatane berumur 51 tahun. Di Universitas Katolik Widya Mandala, Prof Anita Lie merupakan yang termuda. Usianya 44.

Informasi soal profesor yang muda akhirnya ”dilengkapi” oleh ITS. PTN tersebut punya dua guru besar yang masih sangat muda. Yang pertama adalah I Ketut Aria Pria Utama. Dia sempat tercatat sebagai profesor termuda di ITS. Saat dikukuhkan pada 4 Juni, dia berumur 41 tahun 1 bulan 28 hari. Saat mendapat SK profesor, sebelum dikukuhkan, Ketut berumur 40 tahun.

Hanya berselang beberapa hari, ”prestasi” Ketut sebagai yang termuda digeser koleganya yang juga dari Bali. Yaitu, Prof I Nyoman Pujawan MEng PdD.

***

I Nyoman Pujawan mengaku, perjalanan hidupnya begitu biasa-biasa saja. Sejak muda, dirinya sudah biasa berpisah dari kedua orang tua, Ketut Ragem dan Nengah Penpen.

Nyoman menjalani masa SMP dan SMA di Bangli, Bali. Itu berjarak dua jam perjalanan dengan angkutan umum dari rumahnya di Songan. Untuk bekal hidup, orang tuanya yang hidup berkebun selalu mengirimi uang. Kalau sedang sibuk bertanam, kiriman uang biasanya juga dititipkan tetangganya.

Saat SMP, Nyoman aktif berorganisasi. ”Saya paling suka kumpul-kumpul. Di situ, saya bisa berlatih bicara,” ungkapnya.

Pilihannya ke ITS pun terkesan sekenanya. Dia tak tahu apa yang dipelajari di Fakultas Teknik Industri, fakultas yang akhirnya mengorbitkan namanya. ”Saya pikir teknik industri. Ah, keren sekali nama itu,” ujarnya.

Sebagai pilihan kedua, Nyoman mengincar Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada. Itu pun ”hanya” untuk menyalurkan hobi kumpul-kumpul dengan banyak orang.

Saat kuliah, prestasi Nyoman tak begitu menonjol. Dia hanya meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 2,9. Nyoman merasa sudah cukup dengan hasil tersebut. ”Mau jadi dosen tahun itu hanya butuh IPK 2,5. Ini sangat lebih. Kala itu tak ada yang berpikir dapat IPK 3 lebih. Yang penting waktu tempuhnya. Saya cuma 3 tahun 6 bulan,” jelasnya.

Dengan hasil itu saja, dua minggu sebelum wisuda, sekitar 1992, Nyoman sudah diinden beberapa perusahaan multinasional. Dia lantas menjatuhkan pilihan sebagai management trainee sebuah perusahaan elektronik di kawasan Ngagel.

Bapak satu anak itu pun menjalani hidupnya dengan rutinitas sebagaimana karyawan umumnya. Dia bertugas memastikan bahwa pasokan bahan baku dalam kegiatan produksi elektronik tak sampai telat. Di perusahaan tersebut, gaji Nyoman cukup besar. Tahun itu, bayarannya Rp 650 ribu sebulan, empat kali lipat gaji dosen muda di ITS yang hanya Rp 127 ribu. Dengan gaji tersebut, dia bisa berbuat banyak. Mulai mentraktir teman seangkatan sampai beli banyak buku.

Kondisi itu tak berlangsung lama. Tampaknya, Nyoman bosan juga. ”Rasanya, waktu saya habis di pabrik. Ilmu saya tidak terpakai. Kurang ada kreativitas,” ungkapnya.

Padahal, sejak mahasiswa, dia sangat suka berorganisasi dan terlibat dalam kepanitiaan acara. Nyoman akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan.

***

Titik balik kehidupan Nyoman dimulai saat dia melamar sebagai dosen ITS, 1993. Sebelum diangkat sebagai PNS, dia pun harus bersabar menjadi dosen honorer. Di Kampus ITS, dosen status tersebut lebih dikenal dengan dosen tunggu.

Ketika itu, dia pun harus berani memutar haluan hidup. Dari karyawan perusahaan besar dengan penghasilan besar, kemudian menjadi dosen tunggu dengan penghasilan relatif kecil. ”Untungnya, ada saja penghasilan yang didapat,” katanya.

Dosen tak melulu mengajar. Ceperan pendapatan berasal dari proyek-proyek di perusahaan yang menggandeng kampusnya. ”Kalau kekurangan, juga enggak. Saya ini serbapas,” ujarnya.

Pada masa tunggunya itu, karir Nyoman mulai moncer. Dia sering mendapat beasiswa ke luar negeri. Namun, saat impian mulai di depan mata, Nyoman terhalang status. Namanya sering dicoret dari daftar penerima beasiswa karena masih berstatus honorer. Misalnya, saat ditawari belajar teknik industri di Kanada.

Sebagai dosen muda, dia juga menunjukkan produktivitas menulis. Dia menghasilkan buku Ekonomi Teknik yang menjadi literatur wajib jurusan Teknik Industri secara nasional.

Kesabaran itu pun membuahkan hasil. Setahun menunggu, Nyoman diangkat menjadi PNS. Itu ketika ITS dipimpin Rektor Prof Dr Oedjoe Djoeriaman. Ketika itulah, tawaran beasiswa kembali direngkuh. Dia lolos seleksi Asian Institute of Technology, Bangkok.

Banyak yang meremehkan pilihan Nyoman. Saat seniornya lolos seleksi perguruan tinggi Amerika atau Inggris, sebagai dosen muda, Nyoman justru memilih Bangkok. Suatu pilihan yang tak lazim di ITS. ”Tapi, saya tetap jalan. Di Thailand, kampus itu juga punya nama,” tegasnya.

Itulah titik awal pergaulan Nyoman dengan semua bangsa. ”Saat belajar, saya berpikir belajar gaya bahasa semua bangsa,” jelasnya. Misalnya, menirukan orang Myanmar yang dialeknya tak begitu jelas, Vietnam yang keras bicara, sampai bangsa Asia Selatan yang santun.

Di kampus tersebut, Nyoman menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjabat general secretary student union. Padahal, jabatan itu biasanya diisi mahasiswa negara Asia yang maju.

Lulus, Nyoman tak berniat balik ke Indonesia. Dia berpikir sekali merantau ke luar negeri, harus rampung sampai pulang bawa gelar doktor. Lamarannya ke Lancaster University, Inggris, jurusan management science lolos.

Ada dua hal penting yang didapatkan selama belajar. Nyoman mendapat gelar doktor plus memadu kasih dengan Mahendrawathi, adik kelas yang kemudian menjadi istrinya. Di sela-sela kuliah, dia kerap menempuh perjalanan panjang dengan kereta api untuk menjenguk kekasihnya yang belajar di Nottingham University. ”Saya telateni saja. Ibaratnya belajar dan pacaran,” ungkapnya.

Pada 2000, Nyoman meraih doktor. Istrinya belum rampung. Karena itu, pada 2002, dia kembali bertolak ke Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Dia mengajukan cuti untuk menemani istrinya.

Tak sekadar menemani istri, Nyoman juga mengajar di Lancaster Business School, sekolah bisnis yang cukup terkemuka di negara tersebut. Gaji yang diterima cukup besar, mencapai Rp 30 juta sebulan.

Pada 2003, menyandang gelar doktor yang diraih pada usia 31, Nyoman kembali ke ITS. Gelar doktor itu dia raih dengan indeks prestasi mendekati absolut, 3,85.

Karir Nyoman lalu mulai moncer. Dia menggagas jurnal Operations Supply Chain Management (OSCM), rintisan jurnal internasional yang mengundang banyak penulis asing dari kampus-kampus luar negeri. Saat ini, puluhan penulis aktif mengisi jurnal tersebut. ”Saya merintis supaya banyak dosen yang melahirkan karya internasional,”’ katanya.

Nama Nyoman sudah sangat dikenal di jurnal internasional di beberapa negara. Selama lima tahun terakhir, setidaknya 33 karya di jurnal internasional berhasil dia lahirkan. Itu masih belum ditambah beberapa karya tulis yang belum ditayangkan.

Puluhan karyanya itulah yang kemudian mendongkrak dirinya sebagai guru besar dalam usia muda. Dengan karya tersebut, dia sangat gampang mendapatkan poin kredit pengurusan guru besar.

Kiprah Nyoman yang lain adalah mengenalkan ITS ke dunia internasional. Dia berkali-kali menggagas seminar internasional yang membicarakan supply chain management. Itu juga yang membuat dirinya cukup dikenal di dunia kampus serta industri.

***

KALAU mau ngoyo, sebenarnya Nyoman bisa meraih guru besar pada usia 37 tahun. Tapi, itu tak dilakukan. Dia ingin mengikuti alur hidup. ”Kalau sekarang, mungkin sudah saatnya,” ujarnya merendah.

Dua tahun lalu, saat mengajukan persyaratan guru besar ke rektorat, banyak yang takjub. Tapi, sekarang, meski sudah profesor, Nyoman tak berubah. Nyaris tak ada dosen yang memanggilnya prof. ”Saya lebih suka dipanggil Nyoman. Itu nama saya,” katanya.

Kini, banyak dosen yang belum meraih gelar tertinggi akademik tersebut. Namun, semua itu tetap tak membuat dirinya besar kepala. Malahan, terkadang dia yang kikuk. Bahkan, awal-awal mengajar, Nyoman kerap harus jalan munduk-munduk. Namun, perlahan dia bisa menyesuaikan diri.

Di kalangan mahasiswa, dia juga tidak disebut dosen killer. Nyoman cukup murah memberi nilai. ”Tapi, tidak berarti ngobral. Setiap 40 orang, ya tetap saja ada yang nggak lulus,” katanya.

Nyoman pun cukup dekat dengan mahasiswa. Saat lapar, profesor muda tersebut tak segan makan di kantin bersama para mahasiswanya. (git/dos)


Aksi

Information

2 responses

10 09 2011
http://125.167.177.80/setemen

salut kepada pak nyoman…selamat dan sukses selalu..

4 07 2014
MW

Reblogged this on The M Ways and commented:
Old post about My Hubby🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: