Ketika Raja Baja Laksmi Mittal Mengelola “Budaya” Jaringan di Lebih dari 60 Negara

19 06 2008

Lakshmi Mittal

Bikin Universitas, Mayoritas Karyawan Berbahasa Rusia

Menyelaraskan budaya perusahaan yang punya jaringan di lebih dari 60 negara sangat rumit. Itulah yang dialami ArcelorMittal, produsen baja yang berambisi membeli PT Krakatau Steel. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Mukas Kuluki yang baru pulang dari markasnya di Eropa.

ArcelorMittal adalah perusahaan baja terbesar di dunia. Saat ini perusahaan hasil merger Arcelor dan Mittal Steel itu menguasai 10 persen pangsa pasar baja global. Total produksi pada 2007 tercatat 120 juta ton dengan pendapatan di atas USD 105 miliar (sekitar Rp 966 triliun). Sebelum resmi merger pada Juni 2006, kedua perusahaan tersebut adalah seteru. Setelah melalui negosiasi yang panjang dan berliku, dua perusahaan baja kelas dunia itu memutuskan bersatu.

Salah satu direktur Arcelor, Joseph Kinsch, kini duduk sebagai chairman, sedangkan bos Mittal Steel Lakhsmi N. Mittal menjadi president & CEO. Hasil merger melahirkan entitas bisnis raksasa dengan 320 ribu karyawan dari puluhan perusahaan yang tersebar di lebih dari 60 negara di empat benua. Mulai Kanada, Rumania, Kazakhstan, hingga Liberia.

Padahal, pada 2002 Arcelor baru merampungkan merger dengan tiga perusahaan baja papan atas di Eropa. Yakni, Arbed yang bermarkas di Luksemburg, Aceralia (Spanyol), dan Usinor (Prancis). Langkah ekspansi itu tak berhenti. Pada 2007 saja, ArcelorMittal melakukan 35 transaksi akuisisi dan divestasi perusahaan senilai USD 12,3 miliar.

Nah, di sinilah problem mulai dirasakan. Beragamnya latar belakang perusahaan yang bergabung membuat pengelolaan menjadi rumit. Budaya dan bahasa yang berbeda di tiap negara dan benua memaksa manajemen mencari skema pengelolaan terbaik.

”Tiap Senin seluruh anggota manajemen puncak ArcelorMittal bertemu di kantor pusat di Luksemburg untuk membicarakan segara hal,” tutur Board of Director ArcelorMittal Gonzalo Urquijo. Mantan CEO Aceralia itu menceritakan, setiap awal pekan anggota board of director berkumpul selama tujuh jam untuk membahas isu-isu terkini dan strategi perusahaan di masa mendatang.

Meski anggota direksi berasal dari berbagai negara, suasana pertemuan selalu berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan. ”Itu tidak menjadi masalah. Saya sendiri warga negara Spanyol,” tuturnya. Lakshmi Mittal sendiri mengontrol kerajaan bisnisnya dari London, Inggris.

Selain dengan direksi, manajemen ArcelorMittal secara rutin menggelar pertemuan dengan wakil perusahaan di beberapa negara, di antaranya serikat pekerja. Terakhir, Lakshmi Mittal mengadakan pertemuan dengan serikat pekerja di Kanada. ”Belum lama ini Mr Mittal bertemu perwakilan serikat pekerja dari beberapa perusahaan. Acaranya berlangsung di Kanada,” terang Haroon Hasan, corporate communication manager ArcelorMittal.

Sebagai perusahaan multinasional, lanjut dia, karyawan ArcelorMittal memang harus siap bepergian dan berpindah domisili setiap saat. Dia mencontohkan dirinya sendiri yang bertugas sebagai corporate communication. Hampir tiap hari dia selalu pergi ke negara berbeda untuk menjalin relasi dengan media dan masyarakat setempat, serta demi mengenal perusahaan yang baru diakuisisi. Dalam sebulan terakhir, dia mengaku telah bepergian ke hampir 15 negara mulai Amerika sampai Asia.

”Memang melelahkan seperti yang Anda rasakan saat ini,” ujar Haroon kepada rombongan media asal Indonesia yang diundang mengunjungi pabrik ArcelorMittal di Eropa. Ya, perjalanan rombongan media asal Indonesia ke Eropa seakan tak mengenal kata rehat.

Berangkat dari Jakarta, penerbangan ke Paris yang transit di Singapura dan London membutuhkan waktu 24 jam. Sampai di Paris, perjalanan masih dilanjutkan dengan kereta api cepat selama 2 jam ke Brussel, Belgia.

Di Brussel, perjalanan berlanjut menggunakan bus ke Gent selama satu jam. Setelah seharian melihat salah satu pabrik baja terbesar ArcelorMittal di Gent, Belgia, sorenya rombongan terbang ke Hamburg, Jerman. Di sini pun tidak lama. Setelah esoknya melihat fasilitas pabrik yang sebelumnya di bawah payung Mittal Steel, sore rombongan sudah angkat koper ke Luksemburg. Dari negara yang disebut Heart of Europe itu, rombongan mengakhiri perjalanan dengan kereta api selama dua jam ke Paris.

”Seperti inilah pekerjaan saya. Berkeliling ke perusahaan-perusahaan ArcelorMittal di beberapa negara,” terang Haroon yang mengaku baru tiga bulan bergabung dengan ArcelorMittal. Profesional seperti Haroon banyak tersebar di ArcelorMittal. Mulai teknisi, tenaga riset dan pengembangan (R&D), hingga tenaga penjualan. Hanya, semua berbeda latar belakang.

Contoh multikultural paling konkret adalah pusat R&D yang terletak di Gent. Semua awaknya adalah yang terbaik dari staf R&D yang tersebar di beberapa benua. Ada yang dari Brasil, Kanada, hingga Spanyol.

Hal itulah membuat ArcelorMittal merasa perlu membuatnya jadi seragam. Seperti persepsi, visi, hingga teknologi perbajaan. Untuk itu, perseroan mengembangkan ArcelorMittal University yang berpusat di Luksemburg. Di situ semua karyawan ArcelorMittal diberi kesempatan belajar secara langsung dan meng-up date pengetahuannya.

Bagi yang tidak punya kesempatan secara langsung, ArcelorMittal University masih menyediakan pelajaran melalui e-learning atau belajar secara online. Dengan fasilitas itu, karyawan yang tersebar seantero dunia masih bisa menimba ilmu.

Saat ini hanya tersisa satu masalah lagi, yakni bahasa. Sebab, sedikit karyawan ArcelorMittal yang mahir berbahasa Inggris. Sementara sepertiga dari 320 ribu karyawan justru berbahasa Rusia. ”Mayoritas karyawan kami memang menggunakan bahasa Rusia,” katanya. (el)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: