Hermawan Kertajaya :What Is MICE, Anyway?

17 06 2008

My Photo

Sejak beberapa hari lalu, saya berada di Kota Kinabalu. Kota itu sering disebut KK, tapi bukan Kandang Kerbau yang merupakan nama sebuah rumah sakit bersalin sangat terkenal di Singapura. KK adalah ibu kota Sabah State, negara bagian Malaysia di bagian utara Pulau Kalimantan.

Ini adalah kali pertama saya berada di East Malaysia -yang juga punya negara bagian lain bernama Sarawak dengan ibu kotanya, Kuching. Saya datang ke sana karena diundang menjadi speaker tentang perlunya branding pada era globalisasi. Konferensi tersebut diadakan tiga tahun sekali di Sabah dengan judul yang keren, yaitu The Second International CEO Conference.

Yang datang pada pembukaan kemarin sekitar 550 pengusaha dan kalangan profesional. Bukan hanya dari Malaysia, tapi juga dari Jepang, Korea, Afrika, serta Indonesia. Chief minister (CM) -yang di Malaysia suka disebut menteri besar- sama dengan gubernur kalau di tempat kita. Dia menjadi orang paling sibuk karena menjadi tuan rumah acara tersebut. Dalam pidato sambutannya, CM memberi semangat kepada semua tamu untuk melakukan investasi di Sabah.

Sebagai speaker, saya merasa cukup puas. Sebab, sejak tiba di airport, sudah ada LO (liaison officer) yang menyambut dan mendampingi saya. Encik Asman dari Yayasan Sabah, penyelenggara konferensi, selalu siap 24 jam untuk saya. Dia juga begitu antusias menunjukkan Kota KK, termasuk ”1 Borneo” yang merupakan the First Lifestyle Hypermall in East Malaysia. Kota itu memang indah karena dikelilingi pantai yang berkelok-kelok.

Encik Asman selalu setia menemani saya makan di Sutera Harbour Resort, tempat konferensi berlangsung. Perlakuan semacam itu juga didapat semua pembicara serta peserta yang menginap. Dia juga selalu mengingatkan saya tentang acara-acara penting yang harus saya hadiri.

Konferensi tersebut cukup profesional karena di-organize oleh ASLI (Asia Strategic Leadership Institute). Lembaga itu merupakan think tank organisasi di Malaysia yang berkedudukan di KL. ASLI didirikan oleh anak Tun Mahathir Mohamad, mantan perdana menteri Malaysia yang sampai sekarang masih vokal. Saya sendiri selalu diundang ASLI dalam konferensi-konferensi besar yang mereka selenggarakan. Kantor Cabang MarkPlus yang di KL juga sering bekerja sama dengan mereka, baik untuk riset maupun training.

Setelah dua hari mengikuti konferensi tersebut, saya akhirnya tahu bahwa inilah upaya pemerintah Sabah untuk memasarkan dirinya dalam hal TTI (trade, tourism, and investment). Karena itu, nanti siang dalam sesi branding, saya akan menekankan pentingnya umbrella branding untuk sebuah negara, negara bagian, atau even sebuah kota dalam menjual dirinya.

Kalau kita ingat Singapura, yang muncul dalam pikiran kita adalah kebersihan, sikap disiplin, dan produktif. Itulah umbrella branding Singapore yang dulu menyebut dirinya The New Asia (Asia yang baru). Artinya, Singapura memang masih Asia, tapi ingin menyatakan dirinya sebagai orang Asia yang baru. Tidak jorok, tidak korupsi, dan tidak santai. So, lihat saja hasilnya. Negara yang tidak punya apa-apa bisa paling hebat TTI-nya dibanding para tetangganya yang lebih hebat, misalnya Indonesia.

Trade? Cukup jadi hub dengan membangun airport dan seaport bertaraf international, Singapura bisa jadi pusat transshipment hub dari Asia Tenggara ke dunia.

Tourism? Wow… Meski kalah oleh Malaysia yang sekarang sudah mencapai 20 juta dan Thailand dengan 15 juta wisatawan per tahun, Singapura yang hanya berisi shopping center bisa menarik orang-orang untuk datang ke sana.

Investment? Saat ini sudah bersifat high tech karena kesiapan SDM mereka. Sedangkan yang low tech mereka berikan ke Batam.

Nah, karena itulah, Sabah -yang sebenarnya sangat terpencil letaknya- bersikeras bikin konferensi besar-besaran untuk memperkenalkan umbrella branding-nya. This is really a state marketing, a city marketing even a country marketing yang dibungkus dalam MICE activity. Meeting, incentive, conference, and event seperti itu memang bukan untuk keperluan tourism semata. Kalau jeli, kita bisa memakainya untuk keperluan place marketing.

Surabaya sendiri -setelah Jatim Expo- sekarang sudah punya Gramedia Convention Center. Saya melihat Dyandra akan sangat sibuk karena jadwal pameran dengan berbagai tema sudah padat sampai akhir tahun. Di bekas lokasi Marinir di Gubeng, saya sudah melihat rencana untuk membuat superblock, termasuk sebuah convention center besar dan mewah. Itu berarti, Surabaya akan menjadi kota yang menggeliat lagi.

The MarkPlus Festival 2008 yang akan diselenggarakan 10 Juli nanti juga merupakan kontribusi saya sebagai arek Suroboyo untuk me-marketing kota ini. Lintas Arta akan men-support dengan fasilitas video conferencing, sehingga para marketer di Bali, Balikpapan, Makassar, dan kota-kota lain bisa ”join” dengan 1.000 orang yang akan hadir secara fisik di Shangri-La Surabaya. Dengan demikian, umbrella branding Surabaya sebagai trading hub Indonesia Timur akan diperkuat.

Saya juga berharap tiap arek Suroboyo lain juga berpikir bisa menggunakan MICE untuk ikut me-marketing-kan Surabaya di berbagai aspek. Mengapa? Sebab, kita semua adalah ambassador Surabaya, kota yang jangan hanya dianggap sebagai Kota Bonek. Tapi, juga kota yang siap menyambut tamu-tamu untuk datang sesuai dengan semangat Sparkling Surabaya. Bagaimana pendapat Anda? (www.hermawankartajaya.com)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: