Menulusuri Kehidupan Mantan Panglima Laskar Jihad

8 06 2008

Disarikan dari Jawapos, Minggu 08 Juni 2008

Ustad Ja’far Umar Thalib dulu identik dengan panglima Laskar Jihad yang menekankan kekuatan fisik. Setelah Laskar Jihad bubar, ustad karismatis itu kini makin menekuni kegiatan dakwah dengan cara modern dan damai.

SYUKRON MUTTAQIEN, Sleman

——-

TIDAK sulit mencari tempat tinggal Ustad Ja’far Umar Thalib. Rumah yang menjadi satu dengan pesantrennya terletak di Dusun Degolan di kawasan Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta. Pesantren Ihya’ As Sunnah itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari Jalan Kaliurang Km 15 menuju objek wisata berhawa dingin di kaki Gunung Merapi.

Ketika Radar Jogja (Grup Jawa Pos) datang ke pesantren yang tidak terlalu jauh dari kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) itu, Jumat (6/6), para santri baru saja menunaikan ibadah salat Jumat bersama warga sekitar. Para santri kemudian bersama-sama makan siang di ruangan berukuran sekitar 7 meter x 8 meter.

Seperti layaknya pesantren salafi, para santri makan ala kembulan, yakni satu nampan digunakan untuk makan secara bersama-sama. Menu makan siang itu: nasi, sayur, dan ikan laut.

Radar Jogja diterima Ustad Ja’far – panggilan akrab Ustad Ja’far Umar Thalib- di ruang maktabah (perpustakaan) pribadi Ja’far yang ada di dalam kompleks rumahnya. Di ruangan yang sejuk ber-AC tersebut terdapat ratusan kitab -kebanyakan berbahasa Arab- yang tertata rapi. Ada meja bundar di tengah ruangan yang biasa dipakai Ustad Ja’far membaca kitab.

Saat wawancara dengan Radar Jogja, Ja’far ditemani dua santrinya. Salah satu di antara santri itu membawa handycam dan mengabadikan seluruh percakapan.

Ja’far mengakui, saat dirinya memimpin Laskar Jihad dulu, ada upaya untuk membelokkan opini dan menyudutkan gerakan yang dilakukannya. “Tudingan Islam garis keras hingga ekstremis dialamatkan kepada kami. Namun, kami tidak gentar,” tegasnya.

Menurut dia, perjuangan yang dilakukan di Maluku dan Poso dulu adalah jihad. Sebab, saat itu terjadi penganiayaan dan penindasan terhadap umat Islam. Saat itu, umat Islam yang minoritas di daerah tersebut dibantai oleh kelompok yang mencoba melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Namun, yang berkembang di masyarakat, perselisihan antaragama dan ras. Padahal, kami melakukan ini karena tidak adanya sikap tegas dari pemerintah ketika itu,” kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Desember 1961 tersebut.

Munculnya reaksi masyarakat itu, termasuk adanya Laskar Jihad, menurut dia, akibat lambannya pemerintah memberikan perlindungan dan merespons persoalan yang terjadi. ”Coba kalau pemerintah tegas, masyarakat tidak akan main hakim sendiri,” tegasnya.

Ketidaktegasan pemerintah itu, katanya, juga dipicu adanya kegamangan para pemegang kebijakan dalam menentukan sikap. Sebab, mereka dibayangi ancaman pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pelanggaran demokrasi. ”Demokrasi bukan berarti tidak bisa tegas, tapi mengakomodasi semuanya. Ini tantangan bagi para pemegang kebijakan,” tuturnya.

Saat ditanya soal munculnya gerakan yang menonjolkan “kekerasan” yang mengatasnamakan Islam, Ja’far mengatakan bahwa itu disebabkan kurangnya pemahaman tentang Islam secara mendalam. Sebab, pada dasarnya, Islam mengajarkan kasih sayang, kesejukan, dan kelembutan. Bukan aksi brutal dan anarkis.

”Tidak ada dalam Alquran yang mengajarkan kita untuk berbuat anarkis. Semuanya mengajarkan kasih sayang,” katanya.

Soal alasan jihad yang sering dipakai dasar bertindak oleh umat, Ja’far juga menanggapinya dengan kritis. Kata dia, untuk menentukan apakah perbuatan tersebut masuk kategori jihad itu tidak gampang. Selain memerlukan kajian keilmuan, juga harus diputuskan dengan pertimbangan para ulama dengan kajian yang matang.

Ustad Ja’far kini makin fokus mengurusi pondok dan dakwah. Alumnus Pesantren Al-Irsyad yang lama sekolah di Timur Tengah itu kini juga sering keliling Indonesia. Biasanya, dia memberikan bimbingan kajian Islam intensif di berbagai kota.

Pesantren yang berdiri pada 1990 itu mempunyai fasilitas cukup lengkap. Di kantor sekretariat terdapat komputer yang hampir 24 jam per hari tersambung dengan internet. Sebab, Ihya’ As Sunnah adalah salah satu di antara sedikit pesantren yang memiliki website sendiri (alghuroba.org). Dari tempat itulah, website tersebut dikelola. Termasuk memberikan respons kepada para pengakses yang bertanya tentang berbagai topik agama.

Kalau tidak ada kesibukan keluar kota dan tidak sedang mengajar, Ja’far biasa membuka website pesantren yang dikelola oleh Fikri Abu Hasan, 22, seorang santrinya. “Sudah diklik ratusan pengunjung setiap hari,” kata Fikri tentang website yang dibuka sejak tujuh bulan lalu itu.

Pesantren tersebut juga memiliki aula yang cukup luas serta kolam renang. Agar tubuh tetap bugar, para santri biasa berenang di kolam renang berukuran 35 x 20 meter di sebelah barat pondok itu pada pukul 08.00-09.00 atau setelah salat Asar pada sore hari. ”Ini bedanya dengan pesantren lain. Di sini santri juga terbiasa berenang,” ujar Fikri.

Materi pengajaran yang diberikan pesantren, lanjut Fikri, merujuk pada kitab-kitab karya ulama salaf, seperti Majemuk Fatawa, Tafsir As Sa’di, Syarkhus Sunnah Al Baghowi, dan Fathul Madjid. Namun, metode pemahaman yang diberikan Ustad Ja’far kepada santri berbeda dengan pesantren salaf kebanyakan.

”Ustad memahamkan materi kepada santri dengan cara khas beliau sehingga kami bisa memahami dengan cepat,” kata pria asal Jakarta yang pernah kuliah di Akakom Jogja itu.

Ada tiga bidang utama pengajaran di pesantren tersebut. Yakni tahfidhul Qur’an (hafalan Alquran), tadribud du’at (manajemen dakwah), dan tarbiyatun nissa (pengajaran perempuan). Santri mengaji sehabis subuh hingga petang. ”Malam hari dipakai diskusi dan pendalaman materi,” kata santri yang intensif belajar di Ihya’ As Sunnah sejak tiga tahun lalu itu.

Fikri mengaku sering mendampingi Ustad Ja’far memenuhi undangan kajian Islam ke berbagai kota. Dia mantap dengan pengajaran sang ustad. “Yang diajarkan adalah Islam yang damai,” ujarnya. (el)


Aksi

Information

4 responses

12 05 2013
yuwono susatyo

kapan ya saya bisa ketemu dengan Ustadz JA” FAR ???

11 11 2013
iwan peyexiwan peyex

Assalamualaikum.

16 07 2014
nanang

Assalamualaikum
maaf pak ustad saya merasa terharu melihat keadaan palestina yg skarang di bantai oleh kaum yahudii?

13 10 2016
muhamad raihan rakasono

Ustad , bagimana cara menanggapi orang orang kristen yg belakangan ini suka memutar balikan fakta / fitnah untuk menjatuhkan agama kita ?

Saya emosi aja kalo browsing suka ga sengaja ngebaca blogs orang orang kafir itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: