Pemikiran Aneh Ulil Abshar Abdalla: Meragukan Ke-otentik-an Kisah-kisah dalam Al-Qur’an ( 2 )

26 06 2008

Ini lebih aneh lagi, Ulil dengan jelas mengatakan Kisah-kisah di dalam Alquran hanya isapan jembol belaka, hasil imajinasi orang.

Berikut ini tulisannya, saya kutib dari : http://uli.net/page/2

Salam,
Kata-kata yang menarik dari Morgan Freeman dalam bagian akhir film komedi bertitel Bruce Almighty garapan sutradara Tom Shadyac itu sangat menarik kita simak:

A single mom who’s working two jobs and still finds time to take her kid to soccer practice, that’s a miracle. A teenager who says no to drugs and yes to an education, that’s a miracle. People want me to do everything for them, and what they don’t realize is – they have the power. You want to see a miracle, son? Be the miracle.”

Saya terpukau dengan kalimat ini.

Selama ini kita memahami mukjizat secara fantastis sebagai peristiwa-peristiwa besar seperti Musa membelah dan menyeberangi Laut Merah dengan tongkatnya, atau banjir bandang pada masa Nuh yang menelan seluruh manusia di bumi, atau Yesus yang menghidupkan orang mati, atau Muhammad yang mengendarai hewan “buraq” dan melesat terbang ke langit tujuh dalam peristiwa Isra’-Mi’raj, dsb.

Kita tak pernah benar-benar bisa tahu bahwa kejadian-kejadian fantastis di masa lampau itu benar-benar faktual pernah tejadi. Boleh jadi itu hanya dongeng yang dipungut oleh Quran dari khazanah folklore Yahudi yang tersebar di kawasan Timur Tengah saat itu sekedar untuk medium penyampaian pesan dakwah. Yang penting bukanlah mukjizat fantastis itu. Tetapi pesan apa yang hendak disampaikan oleh dongeng mukjizat itu.

Manusia di manapun butuh dongeng dan legenda. Di Mesopotamia ada legenda Gilgamesh. Di Yunani ada legenda Odyssey dan Iliad. Di India ada legenda Ramayana dan Mahabharata. Dalam agama-agama semitik ada legenda Nuh, Ibrahim, Musa, Yesus dan seterusnya.

Legenda itu berkisah tentang keajaiban fantastis yang nyaris di luar penalaran akal sehat. Apakah legenda dalam Gilgamesh itu faktual, kita tak pernah tahu Apakah epik Homer dari Yunani, atau Ramayana dan Mahabharata dari India benar-benar terjadi pada suatu waktu, kita juga tak tahu.

Apakah kisah “ajaib” Musa, Yesus, atau Muhammad sungguh-sungguh nyata, kita juga tak pernah bisa tahu dengan pasti. Orang-orang beriman dalam ketiga agama yang diwakili oleh ketiga tokoh besar itu tentu percaya benar bahwa keajaiban fantastis yang terjadi pada tiga tokoh itu adalah faktual dan benar-benar terjadi.

Bagi saya, pelajaran yang penting dari suatu mukjizat dan keajaiban bukanlah soal apakah kejadian itu faktual atau tidak. Bagi saya, tak terlalu penting apakah Musa benar-benar membelah laut dan menyeberangkan ribuan orang Israel dari Mesir untuk menghindar dari perbudakan yang mereka derita di sana.

Dalam sebuah mukjizat, yang penting adalah kisah tentang kemampuan manusia untuk mengatasi keterbatasan fisik dan halangan-halangan yang muncul di sekelilingnya. Yang penting dalam sebuah mukjizat adalah kemampuan manusia untuk melakukan “transendensi”, melampaui sesuatu yang “jasmaniah”, menuju kepada kemampuan “rohaniah” yang nyaris tanpa batas.

Dalam pandangan agama-agama semitik, manusia diciptakan mengikuti citra Tuhan. Dalam Quran, Kitab Suci umat Islam, disebtkan bahwa Tuhan menghembuskan “roh”-Nya ke dalam manusia. Dengan kata lain, dalam diri manusia terdapat unsur “ilahiah”. Unsur inilah yang membuat manusia mampu melaksanakan mukjizat dan keajaiban.

Tetapi, haruskah mukjizat dalam bentuk tindakan fantastis yang yang berada di luar penalaran akal sehat?

Seperti dikatakan oleh “Tuhan” yang diperankan oleh Morgan Freeman dalam film komedi “Bruce Almighty” itu, mukjizat tidaklah harus berupa peristiwa besar yang fantastis. Mulkjizat yang “sungguhan” justru adalah keajaiban-keajaiban kecil dalam hidup anda sehari-hari, keajaiban hasil karya tangan anda sendiri.

Seorang remaja yang berani berkata “tidak kepada narkoba, padahal di sekelilingnya remaja-remaja lain mengonsumsinya, itulah mukjizat.

Seorang pedagang bakso yang kerja banting tulang berjualan siang-malam tanpa lelah, dan berhasil mengirim anaknya ke universitas, mencapai gelar akademik tertinggi dengan biaya dari jualan bakso, itulah mukjizat.

Seorang petugas kebersihan kota yang menyapu jalan-jalan kota, menyiangi taman-taman kota dari hari ke hari, berdedikasi tanpa lelah terhadap pekerjaanya, tanpa peduli apakah orang lain memperhatikan karyanya atau tidak, itulah mukjizat.

Mukijzat bisa kita ciptakan sendiri. Di sekeliling anda berseliweran kisah mukijzat setiap hari tanpa anda menyadarinya. Anda terpukau pada kisah Musa yang membelah dan menyeberangi laut dengan tongkatnya. Tetapi anda lupa mengagumi kisah mukjizat “kecil” yang bertebaran di sekeliling anda.

Human being is the author of every miracle. It ’s only human who do miracle, not angles.





Pemikiran Aneh Ulil Abshar Abdalla ( 1 )

26 06 2008

Saya akan menuliskan seluruh pemikiran Ulil yang super aneh dan “mendekati” sesat selama beberapa seri, sebagai pengetahuan bagi kita mengenai Jalan Pemikiran Islam Liberal :

Boston “Hijau Royo-Royo”

June 20th, 2008 · 2 Comments

Hari ini, Kamis 19/6/2008, kota Boston benar-benar banjir warna hijau. Meminjam istilah yang terkenal di Indonesia, Boston menjadi “hijau royo-royo”. Tentu, hijaunya kota Boston tak ada kait-mengaitnya dengan pelaksanaan syariat Islam atau menangnya sebuah partai berasaskan Islam.

Boston menjadi hijau royo-royo karena hari ini, Kamis, 19/6/2008, warga kota itu merayakan kemenangan tim basket kebanggaan mereka, Celtics. Di mana-mana, orang-orang memakai kaos hijau, warna khas tim itu. Dalam game keenam final NBA pada 17 Juni lalu, Celtics menang atas tim LA Lakers dengan skor telak 131-92. Kemenangan Celtics melengkapi kemenangan Red Sox, tim baseball kota Boston, atas Colorado Rockies dalam final World Series pada bulan Oktober tahun lalu.

Tentu kemenangan dua tim itu akan menjadi sempurna jika saja dalam final Super Bowl tahun lalu, Patriots, tim football kota Boston, berhasil mengalahkan New York Giants. Sayang sekali, Pats, nama panggilan untuk tim Boston itu, kalah dari Giants. Jika saja Patriots menang, maka lengkaplah julukan Boston sebagai “The Capital of Champ”, kota juara.

Setelah jam sekolah selesai pada pukul 12 siang (hari ini adalah hari terakhir sekolah anak-anak untuk tahun ini, sehingga mereka bubar agak awal), saya langsung mengajak mereka (tentu bersama isteri saya, Ienas Tsuroiya) ke pusat kota untuk melihat parade kemenangan Celtics. Sayang sekali, saat kami sampai di sana, parade sudah selesai. Meski demikian, massa fanatik pendukung Celtics masih berkerumun di berbagai sudut kota. Warna hijau tumpah ruah di mana-mana.

Di sebuah sudut Boston Common (taman kota yang menjadi jantung kota Boston, semacam Central Park di New York), saya melihat tiga gadis remaja memakai jilbab, salah satu di antaranya memakai kaos seragam Celtics warna hijau dengan nomor punggung 5. Di atas angka itu, terdapat kata “GARNETT”. Kevin Garnett adalah pemain depan andalan Celtics yang pada pertandingan akhir kemaren melawan LA Lakers mencetak point tertinggi bersama Ray Allen dan Paul Pierce.

Bagi saya, seorang gadis berjilbab, memakai kaos tim basket Amerika, dan berdesak-desak di antara massa yang merayakan kemenangan tim basket sebuah kota di Amerika, tentu pemandangan yang sangat menarik. Saya buru-buru mengeluarkan kamera. Saya menjepret mereka dari belakang, dan sengaja nomor punggung dan nama GARNETT saya “close-up”. Saya ingin merekam dan mengabadikan pemandangan yang menarik itu.

Isteri saya tiba-tiba usul: kenapa tak minta foto bareng bersama mereka. Isteri saya mendekati mereka dan minta izin untuk foto bareng. Mereka ternyata senang, mungkin karena melihat isteri saya memakai jilbab. Mereka mungkin merasa mendapat seorang “teman sesama pemakai jilbab” di tengah-tengah massa yang tak berjilbab. Mereka, mungkin, merasa menemukan keintiman di tengah-tengah massa yang “tak berwajah”.

Selesai saya jepret, isteri tanya nama mereka, terutama gadis yang memakai kaos Celtics itu. Sungguh suatu kebetulan, nama gadis itu sama dengan nama isteri saya: INES. Dia tanya, anda dari mana. Isteri saya bilang: dari Indonesia. Mereka berbinar-binar. Lalu, isteri saya bertanya balik, anda dari mana. Mereka ternyata berasa dari Mesir.

Gadis berjilbab dengan jeans ketat dan kaos Celtics itu, di mata saya, mewakili suatu gelombang baru anak-anak muda Islam yang sekarang tinggal di Amerika. Mereka adalah bagian dari masyarakat Amerika. Mereka menghayati kultur populer yang ada di Amerika, salah satunya adalah kultur olah raga. Tetapi, seraya dengan itu, mereka tetap menjaga salah satu identitas keislaman, yaitu jilbab. Meskipun di mata saya jilbab bukan satu-satunya pakaian yang “Islami”, tetapi di mata banyak masyarakat Islam, termasuk di Amerika, jilbab jelas mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pelbagai jenis pakaian yang lain. Di mata mereka, jilbab tetap dipandang sebagai cerminan dari identitas keislaman yang membedakan mereka dari masyarakat yang lain.

Menjadi seorang wanita Muslimah tentu tak berarti mengisolir diri dari masyarakat sekitar dengan menutup seluruh tubuh dengan pakaian tradisional ala masyarakat Afghanistan seperti Burqa. Menjadi Muslimah yang baik bisa terlaksana dengan jilbab, plus jeans, dan kaos yang melambangkan kebudayaan populer masyarakat Amerika. Dengan kata lain, jilbab bukanlah halangan bagi wanita Muslimah untuk melakukan asimilasi dalam kebudayaan lokal. Jilbab bisa bersandingan secara damai dengan ekspresi kultural masyarakat setempat.

Saya sungguh senang melihat pemandangan gadis berjilbab, dengan celana jeans dan kaos Celtics di tengah-tengah kota Boston itu. Itulah lambang “koeksistensi” antara Islam dan budaya lokal, antara keislaman dan keamerikaan. Keislaman dan keamerikaan bisa saling berdialog, membaur, saling memperkaya.

Kaum Islam fundamentalis di mana-mana mengira bahwa menjadi Muslim sama saja dengan menyingkirkan budaya lokal yang dianggap sebagai mengotori kemurnian Islam. Mereka menganjurkan umat Islam untuk menegakkan “dinding isolasi” yang tebal antara Islam dan non-Islam melalui konsep “al-wala’ wa al-bara’“, loyalitas dan dis-loyalitas, konsep yang dipopulerkan oleh Ibn Taymiyah itu.

Yang menggelikan adalah bahwa kaum Islam fundamentalis itu menganjurkan kembali kepada Islam yang “murni” dengan cara mengadopsi simbol-simbol kearaban. Mereka mengira bahwa memelihara jenggot, memakai jubah putih dan sorban, menutup seluruh tubuh perempuan rapat-rapat (sehingga perempuan mirip sebuah rumah siput yang berjalan beringsut-ingsut) adalah identik dengan Islam yang murni. Mereka tak sadar, bahwa itu semua adalah budaya Arab yang tak harus identik dengan Islam itu sendiri.

Kaum Islam fundamentalis tak sadar bahwa menjadi Muslimah yang baik bisa diterjemahkan melalui penutup kepala (tudung), celana jeans, dan T-Shirt yang melambangkan sebuah kebudayaan populer di masyarakat modern.

Gadis Mesir dengan kaos Celtics di tengah kerumunan massa di tengah kota Boston itu menandakan bahwa jilbab bisa menjadi sarana untuk asimilasi, bukanlah isolasi.





Hermawan Kertajaya : Marketing and The City

26 06 2008

SUDAH nonton Sex and the City: The movie? Itulah yang saya lakukan begitu tiba di Jakarta. Padahal, waktu series-nya dulu, saya nggak pernah nonton sekali pun. Tapi, kan series soap opera itu memang menghebohkan. Terutama, kaum perempuan kita yang young adult, yang terpana akan gemerlap New York City alias Manhattan. Saya masih ingat, bagaimana waktu itu, tiap minuman yang diminum di series tersebut mendadak juga dicari orang di Jakarta. Begitu juga Museum Guggenheim yang memang keren di Manhattan jadi buah bibir di sini. Pokoknya nge-tren abis deh

Padahal, ceritanya cuma muter-muter empat karakter. Yaitu, Carrie, Miranda, Charlotte, dan Samantha. Masing-masing karakter punya keunikan. Mereka adalah lajang umur tiga puluhan yang ogah nikah. Tapi, mereka justru sibuk berpetualang dengan cinta dan seks di kota metropolitan dunia tersebut. Begitu gencarnya hiruk-pikuk dibicarakan orang dan media massa, akhirnya saya tertarik mengetahui lebih lanjut.

Di marketing, itulah yang disebut kekuatan word of mouth yang bersifat horizontal. Sehingga, ketika versi layar lebarnya dibuat, Sex and the City gampang sekali meledak. Orang sudah mengenal judulnya, sudah kenal karakternya, dan sudah tahu bahwa film itu akan keren abis.

Saya jadi makin tertarik untuk nonton ketika salah satu friend saya di Facebook menulis di status update-nya: Wow…I like Sex and the City so much.. the shoes, the bags, the dress…

Tentu saja, yang nulis seorang wanita. Ketika saya nonton di Senayan City, bener juga. Lebih banyak cewek yang nonton daripada cowok. Yang lebih banyak dikomentari cewek-cewek itu adalah tas Louis Vuitton dan sepatu Manolo Blahnik yang dipakai Carrie. Sebagai pemain utama, Sarah Jessica Parker yang memainkan Carrie memang jadi mencuat setelah main series tersebut. Konon kabarnya, judul dan ide ceritanya juga berasal dari dia.

Brilian, karena dia bisa benar-benar menangkap apa yang saya sebut sebagai “anxiety and desire” dari penonton, khususnya wanita. Sebagai wanita, dia tahu apa ”kecemasan dan impian” wanita lain. Kecemasan wanita ketika sudah cukup umur, tapi tetap tidak menikah resmi. Walaupun New York City sering digambarkan sebagai kota liar, ternyata, cewek tetap cewek. Buat mereka, dilamar seorang laki-laki adalah big day. Living together, bagaimanapun, bukan jawaban yang diharapkan. Impian tetap berumah tangga dan punya anak-anak.

Di movie itu juga digambarkan apik bagaimana ketidakmengertian pria terhadap hal-hal yang sebenarnya selalu diimpikan wanita pada hari perkawinannya. Ingin pakai pakaian seindah mungkin dan disaksikan oleh sebanyak mungkin teman-temannya. Kepingin terlihat tercantik selama hidupnya dan sebagainya. Kekurangpekaan pria terhadap hal-hal tersebut menimbulkan kesalahmengertian yang sering akhirnya berakibat fatal.

Bukankah Mars dan Venus memang saling tidak mengerti?

Begitu juga di marketing, di dalam persaingan yang makin ketat, kita tidak boleh hanya mengetahui need and want customer saja. Sudah umum! Kompetitor Anda juga tahu.

Need orang tentunya punya pakaian untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan want-nya bisa pakaian yang berbentuk rok, bukan jins. Need bisa sama, want bisa beda. Lebih lanjut, ada yang dinamai expectation. Rok yang diharapkan, misalnya, harus yang modern karena si pemakai ingin dipersepsi sebagai wanita yang tidak tradisional. Hingga di sini, baik need and want maupun expectation bisa digali lewat survei tradisional. Baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Karena itu, marketer berlomba-lomba menyurvei supaya bisa men-develop produk, tepat dengan yang diminta. Tapi, kalau persaingan sudah makin ketat dan semua sudah tahu akan hal itu, susahlah kita.

Nah, di situlah keluar yang namanya ”kecemasan dan impian” tadi. Banyak wanita nggak berani ngaku bahwa mereka cemas dianggap ”perawan tua”. Tapi, kalau ditanya nggak akan ada yang ngaku terang-terangan. Biasanya, jawabannya, mereka memang ingin independen dalam mencari karir atau nggak punya waktu untuk mikirin itu. Sebaliknya, juga jarang wanita kita berani mengatakan bahwa mereka bukan cuma pengen disebut cantik, tapi juga seksi.

Sarah Jessica Parker tahu hal itu.

Karena itu, filmnya mengungkapkan hal-hal tersebut. Pakaian-pakaiannya bukan cuma modern, tapi juga seksi. Inilah impian sebagian besar wanita yang nggak berani diomongkan dan dilakukan.

Tapi, itulah contoh konkret bagaimana kalau kita ingin menggali Market Opportunities, seperti judul salah satu sesi di MarkPlus Festival, 10 Juli. Survei tradisional saat ini sudah tidak bisa diandalkan. Harus pakai cara-cara kontemporer. Di antaranya, yang sedang populer pada saat ini adalah ethnographic research. Lewat metode observasi, konversasi, diary, video taping, dan sebagainya diharapkan apa yang tidak ”ketangkap” pakai cara tradisional bisa terungkap. Kalau gak begitu, biasanya produk kita ya sama saja dengan yang dibuat kompetitor.

Mudah-mudahan The MarkPlus Festival, 10 Juli, juga bisa menjadi Marketing and the City bagi seribu pengunjungnya. Sebab, Anda sekalian dengan mendengarkan lebih dari 20 narasumber bisa melihat yang belum terungkap selama ini, sehingga akhirnya bisa dipakai sebagai strategi baru pemasaran Anda.





Welcome to New Wave Marketing

26 06 2008

Hermawan Kartajaya

SELASA (24/6) malam, dua hari yang lalu, di MarkPlus Jakarta, saya menyerahkan New Wave Marketing Award yang kedua pada Toyota Astra Motors. Bulan lalu, award khusus itu diserahkan Michael Hermawan, COO MarkPlus Inc, ke kompas.com atas inisiatifnya invest besar-besaran menjadi Mega Portal.

Award itu sengaja saya bikin untuk memberikan semangat dan motivasi kepada perusahaan-perusahaan ”offline” yang mulai mengambil inisiatif online. Yang dilakukan Toyota Astra Motors kali pertama adalah melibatkan beberapa celebrity bloggers waktu meluncurkan New Altis. Padahal, biasanya kan wartawan media yang diundang dalam acara seperti itu. Harapannya, supaya terjadi publicity yang punya kredibilitas sangat tinggi.

Menurut teori, publicity bisa lebih efektif daripada iklan karena ditulis oleh pihak ketiga. Kalau Anda mengatakan, Anda sendiri bagus kan tidak lucu. Tapi, kalau Anda memberikan konferensi pers dan mereka kemudian secara ‘’sukarela” menulis, itulah yang ditunggu.

Sebagian orang yang salah kaprah menganggap, itulah PR atau public relations. Padahal PR kan bukan cuma itu. Bisa even, bisa news, bisa lobby, dan sebagainya.

Tetapi, sekarang zaman sudah berubah lagi. Blogger punya daya viralisasi tinggi karena selebriti biasanya punya web atau blog sendiri. Selain itu, karena banyak diakses orang dan punya link dengan banyak pihak, apa pun yang ditulis mereka akan bisa menciptakan awareness yang tinggi. Kalau mereka memberikan komentar positif, pengaruhnya juga akan luar biasa.

Inilah era I-report dan I-journalism. Orang akan sukarela me-report dan jadi wartawan untuk Anda, asal mereka suka. Gak bisa dibayar karena mereka biasanya lebih suka sesuatu yang natural.

Kalau dulu Anda tidak dimuat oleh media besar, terpaksa Anda harus pasang iklan. Sekarang? Anda bisa ”minta tolong” blogger yang terkenal atau justru membuat blog sendiri, seolah membuat media sendiri. Lalu, membuat komunitas sendiri, online.

Kembali pada Toyota, baru-baru ini, mereka malah bikin kontes nulis tentang Kijang. Jelasnya, mereka meminta orang untuk menuliskan The Kijang Experience. Maklum, Kijang sudah merayakan HUT ke-30 dan sampai ke generasi kelima yang bernama Innova itu. Nah, pasti sudah cukup banyak yang punya pengalaman dengan Kijang.

Sambutannya? Luar biasa. Banyak sekali, ternyata, orang yang kepengin mengekspresikan diri. Bahkan, perasaan cintanya pada Kijang. Itu gejala yang disebut I-express. Persis sama dengan kontes-kontes di TV yang menampilkan kontes nyanyi. Yang daftar ribuan. Kenapa? Sebab, inilah kesempatan untuk manggung gratis, lagi pula siapa tahu bisa menang.

Nah, dengan memanfaatkan fenomena I-express itulah, Kijang ingin menjaring perasaan customer-customer setianya yang bisa dimanfaatkan sebagai brand story yang bisa di-share-kan lagi.

Di akhir 2007, di MarkPlus Conference Jakarta, saya me-launch delapan tren Marketing In Indonesia. Tren nomor satu adalah internet booming. Hingga enam bulan pertama, hal itu sudah terbukti. Jumlah pengguna internet naik pesat. Akses ke internet tambah murah. Pilihannya makin banyak dan makin cepat. Warnet pun makin banyak. Karena itulah, saya mengundang Menkominfo Mohammad Nuh yang arek Suroboyo untuk membuka The MarkPlus Festival, 10 Juli.

Welcome to the New Wave Marketing Era. Join it or you will be left behind. Bagaimana pendapat Anda? (hermawan kartajaya.com)