Gara-gara Nge-charge Ponsel, Ruko di Malang Ludes

22 06 2008

Ilustrasi (stuff)

Malang – Malang – Sebuah ruko Jalan Raya Sempalwadak, Kecamatan Bululawang, Malang habis dilalap si jago merah, Jumat (20/6/2008). Diduga sumber api berasal dari korsleting saat nge-charge baterai ponsel di lantai dua.

Dua unit mobil PMK memadamkan api di ruko milik H Nurhadi (33) yang digunakan warung dan counter ponsel. Menurut keterangan Anis Ainur (30), istri Nurhadi, mulanya dirinya mendengar suara barang terbakar saat menaiki tangga.

Melihat tempat tidur dilahap api, ibu 3 anak ini kemudian lari turun serta meminta suami bersama anaknya meninggalkan rumah. Api pun berhasil dipadamkan dalam waktu satu jam.

Petugas dari Polsek Bululawang dan Polres Malang hingga kini polisi masih menyelidiki kebakaran yang diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp 65 juta.

“Kuat dugaan kebakaran ini berasal dari arus pendek di lantai dua. Dan diakui pemilik ruko dia sebelum mengisi baterai ponsel miliknya dekat tempat tidur,” ujar Kapolsek Bululawang AKP Kamsidi kepada detiksurabaya.com di lokasi.

Hasil sementara olah TKP petugas bahwa api berasal dari pengisian baterai ponsel korban yang terjadi arus pendek. Api sendiri cepat membesar karena berdekatan dengan tempat tidur serta barang mudah terbakar lain.





Radiasi Menara BTS Diduga Tewaskan 14 Orang

22 06 2008

Menara yang jadi kontroversi (dailymail)

Inggris – Sekelompok masyarakat di Inggris ketakutan dan memprotes keberadaan sebuah menara BTS (Base Transceiver Station). Pasalnya, 34 orang yang tinggal di sekitarnya menderita penyakit kanker yang diduga disebabkan radiasi dari menara itu.

Tercatat sebanyak 14 orang juga telah meninggal karena kanker dalam kurun waktu 7 tahun. Penduduk lokal menyatakan, mereka mulai menderita gangguan kesehatan sejak tahun 2001 seiring dengan banyaknya antena yang dipasang di menara itu. BTS itu sendiri berdiri sejak tahun 1995.

Misalnya saja Wendy Baggott (52 tahun) yang tinggal 200 meter dari menara, bersaksi bahwa suaminya terkena kanker kulit karena sering jalan-jalan di sekitar menara. Empat tetangganya juga meninggal yang diklaimnya karena kanker. Kematian terakhir terjadi 6 bulan lalu di mana seorang wanita tewas karena tumor otak.

“Seluruh kehidupan di sekitar menara terkena dampaknya. Kami juga khawatir bila ada anak-anak yang bermain di sekitar sana,” ungkap Baggott seperti dikutip detikINET dari Telegraph.co.uk, Jumat (20/6/2008).

Adapun lembaga pengawas telekomunikasi Ofcom menyatakan bahwa BTS di daerah Kingswinford itu memang memancarkan radiasi dengan level amat tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan menara lainnya di seluruh Inggris.

Menara telekomunikasi yang bertempat di bekas menara air itu dimiliki oleh dewan kota dan dinyatakan telah bekerja sesuai aturan. Namun dengan adanya kasus tersebut, menara telekomunikasi itu diusulkan untuk dirubuhkan meski belum terbukti pasti bahwa radiasinya menyebabkan kanker.

Untuk itu, lembaga kesehatan Health Protection Agency telah mengontak dokter lokal untuk memastikan dampaknya bagi kesehatan warga.





Komputer Ngadat, Robot Angkasa Mogok di Mars

22 06 2008

Phoenix Lander (foxnews)

Los Angeles – Robot angkasa Phoenix Lander telah menjalankan misi utamanya, mengorek kemungkinan adanya kehidupan di planet Mars. Namun belum lama ini, Phoenix sempat mogok bekerja karena komputernya rusak.

Awalnya, Phoenix menggali sebuah materi dari tanah Mars. Robot canggih itu lalu mencoba mengambil gambar dan menyimpannya di komputer internal. Namun overload data membuat sang robot tak bisa melakukannya.

Dikutip detikINET dari News10, Jumat (20/6/2008), ilmuwan NASA (National Aeronautics and Space Administration) yang mengkreasi Phoenix mengatakan bahwa kerusakan ini tak sampai mengakibatkan hilangnya data penting.

“Memang ada sesuatu yang hilang. Namun untungnya tidak terlalu krusial,” ungkap ilmuwan Ray Arvidson yang turut menggawangi misi Phoenix ini.

Gangguan ini terlacak setelah Phoenix secara abnormal mengirim data sampai 45.000 kali. Dayanya pun habis dan tak berfungsi seharian. Normalnya, sang robot seharusnya menyimpan dulu data yang didapatnya di flash memory.

Ilmuwan NASA menyatakan sudah memperbaiki kerusakan itu meski penyebabnya belum diketahui pasti. Beberapa aktivitas Phoenix pun terpaksa dibatalkan untuk memulihkan sistem seperti sedia kala.





Remaja Cari Tempat Pool Party Ilegal Lewat Google Earth

22 06 2008

Inggris – Para remaja di Inggris memanfaatkan Google Earth untuk mengidentifikasi rumah kosong yang memiliki kolam renang, lalu mereka menggelar pesta di rumah tersebut.

Awalnya, mereka menentukan target rumah dengan menggunakan Google Earth. Setelah menemukan target, mereka membuat persiapan akhir dan mengundang teman-temannya lewat situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Bebo.

Para remaja ini kemudian menyelenggarakan pesta gila-gilaan di rumah yang mereka ketahui sedang ditinggalkan penghuninya tersebut. Mereka mengenakan pakaian ala pesta topeng, dan membawa sepeda sehingga mereka bisa melarikan diri dengan cepat jika pesta mereka terganggu.

Beberapa pemilik rumah pernah memergoki tingkah polah para remaja ini. Saat si pemilik rumah pulang dari bekerja, dia menemukan kolam renangnya penuh dengan botol bir.

“Kami mengimbau pemilik rumah yang memiliki kolam renang untuk senantiasa waspada,” ujar seorang juru bicara kepolisian Devon and Cornwall, seperti dilansir Vnunet, dan dikutip detikINET, Sabtu (21/6/2008).

Lebih lanjut pihak kepolisian juga mengeluarkan peringatan kepada para remaja bahwa menggunakan kolam renang orang lain merupakan perbuatan yang melanggar hukum.





Mobil Masa Depan akan Memiliki ‘Mata’

22 06 2008

Ilustrasi (geekologie)

Calif – Seiring perkembangan teknologi, berbagai peralatan sehari-hari juga bakal diperkaya dengan alat-alat canggih. Termasuk untuk kendaraan di masa depan yang bakal dipercantik dengan ‘mata’ untuk melihat kondisi sekitar.

Impian tersebut kini tengah dirajut oleh Intel Corp bekerjasama dengan Neusoft, yang baru saja mendemonstrasikan aplikasi masa depan untuk mobil.

Dilengkapi dengan kamera sebagai mata, dan komputer berbasis processor multi-core sebagai otaknya. Mobil masa depan ini akan memiliki kemampuan mengidentifikasikan kendaraan lain dan penjalan kaki yang terlalu dekat lebih akurat.

Dari keterangan tertulis yang diterima detikINET, Sabtu (21/6/2008), mobil ini juga diklaim dapat memperingatkan pengemudi atau mengambil alih kemudi untuk tindakan pengamanan agar mencegah terjadinya kecelakaan.

Jenis visual computing seperti ini akan membutuhkan kemampuan komputasi yang sangat besar, dan memberikan tantangan dalam hal pemrograman parallel (request proses multiple dan simultan).

Demo pada mobil ini memanfaatkan riset programming Intel Ct, bahasa pemrograman C/C++ yang dikembangkan di lab Intel, yang memungkinkan program dapat berjalan secara mulus pada skalabilitas dengan menggunakan 2 hingga 8 core, untuk mengolah proses pencegahan kecelakaan tanpa memerlukan kode ataupun compiler tambahan.





Professor Perkapalan Dari ITS : Ikap yang Suka Belajar Sendiri

22 06 2008

HIDUP saya memang penuh kebetulan.” Kalimat bersahaja tersebut diungkapkan Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD CEng FRINA.

Nama dan gelar itu terasa begitu panjang. Tapi, lantaran orangnya sangat sederhana, dia merasa cukup dipanggil Ikap. Itu singkatan dari namanya, I Ketut Aria Pria Utama.

Ada banyak hal yang membuat Ikap merasa beruntung. Yang pertama, dia menjadi profesor saat umurnya baru 40 tahun. SK pengangkatan Ikap sebagai profesor desain kapal dan hidrodinamika keluar pada 1 Desember 2007. Ketika itu dosen di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tersebut baru berumur 40 tahun 6 bulan. Setelah SK keluar, Ikap dikukuhkan sebagai profesor pada 4 Juni 2008.

Namun, gelar tertinggi dalam dunia akademis tersebut bukan satu-satunya yang dianggap sebagai kebetulan alias keberuntungan. Ikap adalah guru besar ke-67 di ITS. Dia lahir pada 1967. Otak-atik gatuk itulah yang dianggapnya kebetulan yang lucu.

Tentang gelar guru besar yang disandangnya dalam usia muda, Ikap tak mau congkak. ”Di dunia ini banyak orang pintar. Tapi, mereka tidak beruntung. Jadi, mereka tidak berhasil,” katanya merendah.

Ikap memang pandai dan rendah hati sejak kecil. Kepintaran itu tak didapatnya dari mengikuti bimbingan belajar. Pria kelahiran Denpasar, 6 April 1967 tersebut lebih suka belajar sendiri. ”Lebih enak mempelajari semuanya sendiri,” ujar ayah tiga anak itu.

Salah satu hal yang paling membantunya untuk sukses adalah kebiasaannya membaca. Itu dibiasakan Drs Ketut Wentra, ayahnya. Ayah Ikap punya peta dunia yang lengkap. Dari peta itulah, Ikap kecil belajar mengenal dunia. Pelajaran yang paling disukainya adalah geografi. Dia baru tertarik dengan sains saat SMA.

Meski belajar otodidak, Ikap selalu juara kelas. Sejak SD sampai SMA, dia tak pernah tergeser dari peringkat satu atau dua. Bahkan, saat SMA, gurunya pernah minta Ikap ikut bimbingan belajar. Itu bukan lantaran nilai Ikap anjlok. Tapi, sang guru ingin Ikap bisa menularkan ilmunya kepada teman yang ikut bimbingan belajar. ”Kata guru, saya bisa ikut gratis,” ujarnya.

Sejatinya, Ikap tak pernah ingin jadi ahli bidang perkapalan. Cita-cita aslinya adalah dokter. ”Tapi, saya takut lihat darah. Rasanya berdesir gimana gitu,” ujarnya. Karena itu, dia memutuskan masuk teknik elektro di ITB setelah lulus SMA. Tapi, ibunya melarang. ITB terlalu jauh. Ikap pun ”berlabuh” di ITS.

Di kampus tersebut, Ikap memilih teknik perkapalan. ”Dulu, kalau denger ITS, yang terbayang teknik perkapalannya,” tuturnya.

Sebagai mahasiswa, Ikap tak ngoyo. Dia menempuh kuliah S-1 lima tahun, 1986-1991. Setelah lulus, dia mengajar di jurusannya selama tiga tahun. ”Saya ingin merasakan kehidupan sebenarnya di dunia kerja, bukan cuma kuliah saja. Maka, saya tidak ingin langsung melanjutkan kuliah S-2,” jelas putra pasangan Ketut Wentra dan I Gusti Made Anom tersebut.

Sejatinya, Ikap pernah ditawari ayahnya untuk ikut seleksi beasiswa ke luar negeri setelah SMA. Tapi, Ikap tak mau pergi. Asal-asalan, dia menjawab, ”Nanti ke luar negeri kalau S-2.” Ternyata, omongannya terwujud.

Pada 1993, Ikap lolos seleksi beasiswa S-2 dari British Council. Pada 1994, dia berangkat ke Universitas Southampton, Inggris. Ikap mengambil jurusan maritime engineering science. Setahun kemudian, dia lulus dan mendapat gelar master of science (MSc).

Pada 1996, Ikap kembali mendapat beasiswa untuk melanjutkan S-3. Beasiswa itu hanya diperuntukkan staf perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Berdasar rekomendasi dari pembimbing S-2-nya, Prof Anthony F. Molland, Ikap akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut. Universitas Southampton kembali menjadi pilihannya. S-3-nya itu selesai pada 1999.

Kisah sedih mewarnai perjalanan pendidikannya. Seminggu sebelum ujian semester satu S-2, ayah Ikap meninggal. Itu adalah pukulan berat untuknya. Sebab, ayahnya adalah motivatornya. Ikap pun terpaksa pulang. ”Saya beruntung bisa mendapatkan tiket langsung, padahal biasanya harus inden seminggu,” jelasnya. Bagi dia, itu adalah keberuntungan tersendiri karena dia bisa menghadiri upacara ngaben ayahnya. Karena duka tersebut, Ikap down. Dia mengajukan ujian susulan dan lulus dengan nilai cukupan.

Saat meraih gelar S-3, Ikap sudah berkeinginan menjadi profesor. Dia terinspirasi kakak ibunya yang juga profesor.

Ikap mulai rajin menulis dan mengikuti seminar serta penelitian. Menurut dia, untuk mendapatkan poin menjadi profesor, seorang dosen harus melakukan tridarma. Yaitu, pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pengangkatan Ikap menjadi profesor memang tidak mengherankan. Dia mengerjakan 47 jurnal ilmiah dan makalah seminar nasional. Selain itu, Ikap menggarap 17 jurnal ilmiah dan makalah seminar internasional. ”Itu hanya yang saya ingat,” jelasnya.

Dari buah menjalani tridarma tersebut, Ikap mengumpulkan 956 poin. Untuk menjadi seorang guru besar atau profesor, dosen membutuhkan poin minimal 850. Karena punya cukup poin, Ikap mengajukan diri. Tapi, dari keseluruhan poin yang dia ajukan, yang disetujui ”hanya” 898. Itu sudah cukup untuk mendapat gelar profesor.

Profesor bukan satu-satunya penghargaan yang diraih Ikap di bidang akademik. Dia adalah peneliti produktif terbaik ITS pada 2006. Pada tahun yang sama, dia menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 tahun. Pada 2007, Ikap dinobatkan sebagai dosen berprestasi ITS. Pada tahun itu juga, dia menjadi finalis dosen berprestasi tingkat nasional.

Salah satu penghargaan yang paling membuatnya bangga adalah terpilih sebagai international council member Royal Institution of Naval Architects (RINA). Ikap adalah satu-satunya dosen Indonesia yang menerima penghargaan tersebut. Sebab, dia dinilai berhasil mengembangkan perkapalan di Indonesia dan Asia Pasifik.

Saat ini dia mengembangkan kapal hemat BBM. ”Pada saat BBM sedang langka seperti ini, saya harap penelitian saya berhasil agar berguna bagi orang lain,” kata Ikap. (sha/dos)





Dosen Termuda ITS

22 06 2008
Minggu, 22 Juni 2008

<!–

–>

[ Minggu, 22 Juni 2008 ]
Profesor Berkepala Tiga

Kata profesor biasanya langsung dikaitkan dengan senioritas, bahkan usia lanjut. Tapi, di metropolis, ada beberapa orang yang berhasil meraih gelar tersebut dalam usia muda, bahkan pada umur berkepala tiga dan empat.
———-
I Nyoman Pujawan tak punya sosok khas stereotipe seorang profesor dalam buku-buku atau film-film komedi. Dia tak tampak sepuh, berkacamata tebal, atau bahkan pikun.

Nyoman masih terlihat begitu muda. Banyak yang menyangka dia adalah mahasiswa S-2 di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). ”Ndak tahu, dari mana menilainya. Mungkin karena saya kerempeng,” katanya.

Nyoman lahir pada 7 Januari 1969. Sampai hari ini, dia masih berumur 39 tahun 6 bulan 15 hari. Pada 1 Desember 2007, saat berumur 38, dia mendapat SK pengangkatan sebagai profesor bidang supply chain management. Pengukuhannya baru berlangsung 25 Juni.

Berarti, saat dikukuhkan pun, Nyoman masih belum genap berumur 40 tahun. Masih sangat muda untuk menyandang gelar profesor.

***

Memang, tak banyak profesor yang berumur 40-an tahun -atau di bawahnya- di Surabaya. Bagian kepegawaian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebut Prof Dr Kisyani sebagai yang termuda di kampus tersebut. Berdasar catatan, Kisyani lahir pada 25 Oktober 1962. Profesor Fakultas Bahasa dan Seni yang belum dikukuhkan tersebut sudah berumur 46 tahun.

Di Universitas Airlangga, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Mangestuti menyebut nama Fendy Suharyadi. Dia termuda di kampus yang berstatus badan hukum milik negara tersebut. Fendy, guru besar psikologi itu, berumur 43 tahun. Dia menerima SK guru besar pada April 2007. Empat bulan kemudian, dia dinobatkan sebagai profesor.

Sampai sekarang, Fendy juga masih yang termuda di Unair, di antara 350 profesor yang dimiliki kampus tersebut. ”Ada beberapa guru besar lagi yang bakal dikukuhkan. Tapi, mereka semua di atas 45 tahun,” kata Mangestuti.

”Perburuan” ke Universitas Surabaya (Ubaya) menghasilkan nama Prof Dr Yusti Probowati Rahayu. Ibu dua anak tersebut sekarang berumur 44 tahun.

Universitas Kristen Petra mencatat nama Prof Dr Hatane Semuel. Tapi, Hatane berumur 51 tahun. Di Universitas Katolik Widya Mandala, Prof Anita Lie merupakan yang termuda. Usianya 44.

Informasi soal profesor yang muda akhirnya ”dilengkapi” oleh ITS. PTN tersebut punya dua guru besar yang masih sangat muda. Yang pertama adalah I Ketut Aria Pria Utama. Dia sempat tercatat sebagai profesor termuda di ITS. Saat dikukuhkan pada 4 Juni, dia berumur 41 tahun 1 bulan 28 hari. Saat mendapat SK profesor, sebelum dikukuhkan, Ketut berumur 40 tahun.

Hanya berselang beberapa hari, ”prestasi” Ketut sebagai yang termuda digeser koleganya yang juga dari Bali. Yaitu, Prof I Nyoman Pujawan MEng PdD.

***

I Nyoman Pujawan mengaku, perjalanan hidupnya begitu biasa-biasa saja. Sejak muda, dirinya sudah biasa berpisah dari kedua orang tua, Ketut Ragem dan Nengah Penpen.

Nyoman menjalani masa SMP dan SMA di Bangli, Bali. Itu berjarak dua jam perjalanan dengan angkutan umum dari rumahnya di Songan. Untuk bekal hidup, orang tuanya yang hidup berkebun selalu mengirimi uang. Kalau sedang sibuk bertanam, kiriman uang biasanya juga dititipkan tetangganya.

Saat SMP, Nyoman aktif berorganisasi. ”Saya paling suka kumpul-kumpul. Di situ, saya bisa berlatih bicara,” ungkapnya.

Pilihannya ke ITS pun terkesan sekenanya. Dia tak tahu apa yang dipelajari di Fakultas Teknik Industri, fakultas yang akhirnya mengorbitkan namanya. ”Saya pikir teknik industri. Ah, keren sekali nama itu,” ujarnya.

Sebagai pilihan kedua, Nyoman mengincar Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada. Itu pun ”hanya” untuk menyalurkan hobi kumpul-kumpul dengan banyak orang.

Saat kuliah, prestasi Nyoman tak begitu menonjol. Dia hanya meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 2,9. Nyoman merasa sudah cukup dengan hasil tersebut. ”Mau jadi dosen tahun itu hanya butuh IPK 2,5. Ini sangat lebih. Kala itu tak ada yang berpikir dapat IPK 3 lebih. Yang penting waktu tempuhnya. Saya cuma 3 tahun 6 bulan,” jelasnya.

Dengan hasil itu saja, dua minggu sebelum wisuda, sekitar 1992, Nyoman sudah diinden beberapa perusahaan multinasional. Dia lantas menjatuhkan pilihan sebagai management trainee sebuah perusahaan elektronik di kawasan Ngagel.

Bapak satu anak itu pun menjalani hidupnya dengan rutinitas sebagaimana karyawan umumnya. Dia bertugas memastikan bahwa pasokan bahan baku dalam kegiatan produksi elektronik tak sampai telat. Di perusahaan tersebut, gaji Nyoman cukup besar. Tahun itu, bayarannya Rp 650 ribu sebulan, empat kali lipat gaji dosen muda di ITS yang hanya Rp 127 ribu. Dengan gaji tersebut, dia bisa berbuat banyak. Mulai mentraktir teman seangkatan sampai beli banyak buku.

Kondisi itu tak berlangsung lama. Tampaknya, Nyoman bosan juga. ”Rasanya, waktu saya habis di pabrik. Ilmu saya tidak terpakai. Kurang ada kreativitas,” ungkapnya.

Padahal, sejak mahasiswa, dia sangat suka berorganisasi dan terlibat dalam kepanitiaan acara. Nyoman akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan.

***

Titik balik kehidupan Nyoman dimulai saat dia melamar sebagai dosen ITS, 1993. Sebelum diangkat sebagai PNS, dia pun harus bersabar menjadi dosen honorer. Di Kampus ITS, dosen status tersebut lebih dikenal dengan dosen tunggu.

Ketika itu, dia pun harus berani memutar haluan hidup. Dari karyawan perusahaan besar dengan penghasilan besar, kemudian menjadi dosen tunggu dengan penghasilan relatif kecil. ”Untungnya, ada saja penghasilan yang didapat,” katanya.

Dosen tak melulu mengajar. Ceperan pendapatan berasal dari proyek-proyek di perusahaan yang menggandeng kampusnya. ”Kalau kekurangan, juga enggak. Saya ini serbapas,” ujarnya.

Pada masa tunggunya itu, karir Nyoman mulai moncer. Dia sering mendapat beasiswa ke luar negeri. Namun, saat impian mulai di depan mata, Nyoman terhalang status. Namanya sering dicoret dari daftar penerima beasiswa karena masih berstatus honorer. Misalnya, saat ditawari belajar teknik industri di Kanada.

Sebagai dosen muda, dia juga menunjukkan produktivitas menulis. Dia menghasilkan buku Ekonomi Teknik yang menjadi literatur wajib jurusan Teknik Industri secara nasional.

Kesabaran itu pun membuahkan hasil. Setahun menunggu, Nyoman diangkat menjadi PNS. Itu ketika ITS dipimpin Rektor Prof Dr Oedjoe Djoeriaman. Ketika itulah, tawaran beasiswa kembali direngkuh. Dia lolos seleksi Asian Institute of Technology, Bangkok.

Banyak yang meremehkan pilihan Nyoman. Saat seniornya lolos seleksi perguruan tinggi Amerika atau Inggris, sebagai dosen muda, Nyoman justru memilih Bangkok. Suatu pilihan yang tak lazim di ITS. ”Tapi, saya tetap jalan. Di Thailand, kampus itu juga punya nama,” tegasnya.

Itulah titik awal pergaulan Nyoman dengan semua bangsa. ”Saat belajar, saya berpikir belajar gaya bahasa semua bangsa,” jelasnya. Misalnya, menirukan orang Myanmar yang dialeknya tak begitu jelas, Vietnam yang keras bicara, sampai bangsa Asia Selatan yang santun.

Di kampus tersebut, Nyoman menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjabat general secretary student union. Padahal, jabatan itu biasanya diisi mahasiswa negara Asia yang maju.

Lulus, Nyoman tak berniat balik ke Indonesia. Dia berpikir sekali merantau ke luar negeri, harus rampung sampai pulang bawa gelar doktor. Lamarannya ke Lancaster University, Inggris, jurusan management science lolos.

Ada dua hal penting yang didapatkan selama belajar. Nyoman mendapat gelar doktor plus memadu kasih dengan Mahendrawathi, adik kelas yang kemudian menjadi istrinya. Di sela-sela kuliah, dia kerap menempuh perjalanan panjang dengan kereta api untuk menjenguk kekasihnya yang belajar di Nottingham University. ”Saya telateni saja. Ibaratnya belajar dan pacaran,” ungkapnya.

Pada 2000, Nyoman meraih doktor. Istrinya belum rampung. Karena itu, pada 2002, dia kembali bertolak ke Negeri Ratu Elizabeth tersebut. Dia mengajukan cuti untuk menemani istrinya.

Tak sekadar menemani istri, Nyoman juga mengajar di Lancaster Business School, sekolah bisnis yang cukup terkemuka di negara tersebut. Gaji yang diterima cukup besar, mencapai Rp 30 juta sebulan.

Pada 2003, menyandang gelar doktor yang diraih pada usia 31, Nyoman kembali ke ITS. Gelar doktor itu dia raih dengan indeks prestasi mendekati absolut, 3,85.

Karir Nyoman lalu mulai moncer. Dia menggagas jurnal Operations Supply Chain Management (OSCM), rintisan jurnal internasional yang mengundang banyak penulis asing dari kampus-kampus luar negeri. Saat ini, puluhan penulis aktif mengisi jurnal tersebut. ”Saya merintis supaya banyak dosen yang melahirkan karya internasional,”’ katanya.

Nama Nyoman sudah sangat dikenal di jurnal internasional di beberapa negara. Selama lima tahun terakhir, setidaknya 33 karya di jurnal internasional berhasil dia lahirkan. Itu masih belum ditambah beberapa karya tulis yang belum ditayangkan.

Puluhan karyanya itulah yang kemudian mendongkrak dirinya sebagai guru besar dalam usia muda. Dengan karya tersebut, dia sangat gampang mendapatkan poin kredit pengurusan guru besar.

Kiprah Nyoman yang lain adalah mengenalkan ITS ke dunia internasional. Dia berkali-kali menggagas seminar internasional yang membicarakan supply chain management. Itu juga yang membuat dirinya cukup dikenal di dunia kampus serta industri.

***

KALAU mau ngoyo, sebenarnya Nyoman bisa meraih guru besar pada usia 37 tahun. Tapi, itu tak dilakukan. Dia ingin mengikuti alur hidup. ”Kalau sekarang, mungkin sudah saatnya,” ujarnya merendah.

Dua tahun lalu, saat mengajukan persyaratan guru besar ke rektorat, banyak yang takjub. Tapi, sekarang, meski sudah profesor, Nyoman tak berubah. Nyaris tak ada dosen yang memanggilnya prof. ”Saya lebih suka dipanggil Nyoman. Itu nama saya,” katanya.

Kini, banyak dosen yang belum meraih gelar tertinggi akademik tersebut. Namun, semua itu tetap tak membuat dirinya besar kepala. Malahan, terkadang dia yang kikuk. Bahkan, awal-awal mengajar, Nyoman kerap harus jalan munduk-munduk. Namun, perlahan dia bisa menyesuaikan diri.

Di kalangan mahasiswa, dia juga tidak disebut dosen killer. Nyoman cukup murah memberi nilai. ”Tapi, tidak berarti ngobral. Setiap 40 orang, ya tetap saja ada yang nggak lulus,” katanya.

Nyoman pun cukup dekat dengan mahasiswa. Saat lapar, profesor muda tersebut tak segan makan di kantin bersama para mahasiswanya. (git/dos)